| Ada Cinta Setelah Bermimpi |
| Ditulis Oleh | ||||||||||||||||||||||||||||||||
| Jum'at, 05 Desember 2008 04:02 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Judul Buku : Maryamah Karpov Pengarang : Andrea Hirata Tahun : November 2008 Penerbit : Mizan
Km57-Masih (tetap) mendebarkan jantung! membaca lembar demi lembar, dari halaman pertama hingga terakhir buku ke empat paling fenomenal tahun 2008 ini. Setelah menunggu beberapa bulan dalam rasa penasaran dan keingintahuan, terbayar sudah. Namun lunas di sini bukan berarti cukup, tidak. Sebab akhir cerita tetap menyisakan tanya yang tidak kurang menggodanya. Pengembaraan fisik dan emosi yang dilakukan tokoh utama cerita, sepintas telah menemukan jawabannya pada buku ke empat. Tetapi ternyata Penulis cukup cerdas untuk tidak mengakhirinya begitu saja. Tidak ada akhir bahagia versi sinetron atau film Indonesia. Jadi, bersiaplah untuk buku ke lima, ke enam, dan seterusnya. Sedikit mengganggu adalah ketika kita membaca judul (yang telah kita ketahui sebelum bukunya terbit). Hanya kurang dari 5 halaman yang bercerita tentang tokoh yang dijadikan judul buku ini. Itu pun hanya sepintas lalu sebagai figuran. Bahkan proses penamaannya juga tidak terlalu disinggung sebagaimana tokoh-tokoh yang lain. Ingatan kita tetang seorang Nurmi kecil beserta Maryamah yang mengalami kesulitan hidup sehingga memaksa Arai membongkar tabungannya kurang mendapatkan porsi yang memadai. Juga kepiawaiannya memainkan biola hanya disinggung sekedarnya, hanya karena Ikal belajar secara kilat memainkan biola, tetapi jelas bahwa tujuannya bukan di situ. Belajar memainkan biola hanya sebagai pembanding dan penguat logika bahwa segala sesuatu mungkin saja dikerjakan dengan menggunakan ilmu (perhitungan), sebagaimana akhirnya Ikal berhasil membangun sebuah perahu. Namun, Maryamah hanya sepintas lewat. Maka terlalu besar sebenarnya untuk menyandang predikat sebagai judul bukunya. Tema utama dalam buku ke empat ini adalah Cinta. Bukan lagi mimpi-mimpi kecil anak-anak Belitong. Ikal membuktikan bahwa kekuatan Cinta mampu mengubah segalanya, mampu membangkitkan kekuatan, dan -menurut sebuah iklan- membuat hidup lebih hidup! Karena mimpi-mimpi itu (rupanya) telah usai seiring semakin kerasnya kehidupan yang memaksa anak-anak laskar pelangi menjadi pribadi-pribadi realistis. Mimpi Ikal pun terpaksa harus berakhir karena masa studinya selesai dan dia harus kembali menjadi anak melayu yang setiap hari berhadapan dengan persoalan. Lebih tepatnya, menjadi bagian dari persoalan ruwet bangsa yang bernama Indonesia. Ini bisa kita lihat ketika pertama menjejakkan kaki di bandara sepulang dari luar negeri, menumpang KM Lawit, Naik Bus, dan kembali ke tengah maysarakat. Tak mengapa, karena Ikal toh sudah berhasil meraih mimpi-mimpinya. Lalu apakah dengan begitu kita juga harus berhenti bermimpi? Tidak, selama mimpi itu memberi kekuatan. Tetapi yang lebih penting lagi ternyata adalah cinta. Barangkali kombinasi antara mimpi dan cinta. Mimpi Ikal untuk sekolah tinggi didasari rasa cintanya yang amat dalam terhadap ayahnya, dan A Ling tentu saja. Tetapi ternyata Ayah Juara Nomor 1 yang sangat dicintainya itu tidak mengabulkan permintaanya untuk meminang A Ling. Oh..kejamnya...
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||||||||||||||||||||||||||||



