| Senandung (lirih) Oemar Bakri |
| Senin, 22 Desember 2008 06:18 | ||||||||||||||||
Geger permasalahan dunia pendidikan di Indoesia adalah bukan hal baru, melainkan hal lama yang secara ironis tidak pernah berhenti dala penyelesaian yang tepat. Sehingga setiap ada momen terkait dengan pendidikan mau tidak mau yang lebih mengemuka adalah keprihatinan semua pada masalah itu. Fahrizal Sikumbang, kembali mengingatkan kita bahwa masih ada yang belum selesai dengan persoalan dunia pendidikan kita. Ketika di sahkan Undang-undang Pendidikan Nasional, pro kontra merebak dan masalah tersisa. Ketika menghadapi ujian akhir smester (UAN, UASBN, dst) permasalahan kembali merebak, tidak tuntas juga. Ketika implementasi APBN 20% untuk pendidikan, persoalan kembali mengemuka. Yang aktual adalah masalah disahkannya beberapa perguruan tinggi mejadi BHP yang memancing demo cukup luas. Yang terakhir ini sudah banyak makan korban entah dari pihak aparat maupun dari para demonstran. Uraian itu bisa menggambarkan betapa carut marutnya dunia yang memegang peran kunci bagi terciptanya sumber daya manusia indonesia yang mampu bersaing di kancah internasional yang semakin ketat dewasa ini. Lalu masihkan kita berharap dari sistem yang kacau balau itu akan tercipta generasi ideal yang sanggup menghadapi tantangan global? Simaklah betapa Guru Safedi harus menyiasati kebutuhan hidupnya yang tak mampu ditanggulangi hanhya dengan mengandalkan bayarannya sebagai guru honorer. Kemudian bagaimana sebagai seorang guru (muda) menemui banyak perlawanan dari guru (tua) lain yang tidak menghendaki atau enggan melakukan perubahan, meskipun perubahan itu diamanatkan oleh undang-undang. Di luar sekolah, sebagai guru yang digugu dan ditiru dia juga harus menghadapi masyarakat yang tidak mau tahu, masyarakat yang menuntut, masyarakat yang hanya tahu janji-janji kampanye dulu. Guru Safedi harus terpinggirkan karena memerjuangkan ide-ide pembaharuannya di sekolah. Ia juga tersisih akibat kemampuan ekonominya amat terbatas. ia menjadi metafora dari paradoks dunia pendidikan kita yang mengharap hasil emas namun hanya menuai benang kusut. Penulis cerpen ini, sungguh telah membangkitkan luka lama yang belum juga kunjung sembuh. Luka yang dianggap sepele oleh mereka yang sibuk berpolitik, sibuk berdagang. Pertanyaan bagi kita, " masihkah kita berharap anak-anak kita tumbuh cerdas, jujur, pintar, dan mandiri dengan mesin cetak yang berkarat dan sering mati listrik?
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |



