| Sejarah Dalam Cerita Pendek |
| Ditulis Oleh | ||||||||||||||||
| Senin, 01 Desember 2008 08:21 | ||||||||||||||||
Km57-Pepatah mengatakan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya (dan karenanya tidak melupakan sejarahnya). Hampir semua bangsa yang besar adalah bangsa yang berhasil belajar dari sejarah perjalannnya. Maka belajar dan mempelajari sejarah menjadi bagian penting dalam kurikulum pendidikan. Namun acap kali kita mendengar keluhan betapa pelajaran sejarah terasa membosankan. Anak-anak sekolah hanya sibuk menghafalkan di luar kepala nama-nama tokoh, tempat, dan tahun peristiwa masa lalu. Hal ini bisa jadi karena sistem pengajaran yang terlalu textbook sebab pengajar tidak memiliki kompetensi yang memadai. Lebih tragis lagi karena pengajar sendiri tidak memiliki minat untuk mempelajari sejarah (bagaimana pula dia bisa mengajarkannya secara baik?). Sementara di ranah politik yang lebih luas, sisa dominasi rejim diktator yang memaksakan sejarah versi penguasa belum sepenuhnya bisa dihilangkan dari fikiran. Sejarah, kata Taufiq Ismail, dengan paksa telah dibengkokkan. Kebenaran dimonopoli, ideologi dikontrol, dan tafsir atas sejarah hanya boleh diproduksi lembaga resmi. Pendek kata, nyaris tidak ada sejarah (pernah suatu saat) adalah kisah kepahlawanan penguasa. Namun, sejarah selalu memiliki jalan sendiri. Ketika rezim berubah, berubah pula cara pandang mengenai sejarah. Sejarah selalu berulang dan memilih siapa yang pahlawan sejati, serta siapa yang hanya memanipulasi. Banyak kemudian versi sejarah 'baru' yang mengoreksi sejarah resmi penguasa.
Di wilayah kesusasteraan, buku-buku sastra yang memuat sejarah sebenarnya dapat dibaca dari karya-karya Pram misalnya, atau Langit Kresna Hariadi. Namun sejauh ini kisah atau peristiwa sejarah yang diceritakan dalam bentuk cerita pendek masih jarang ditemui. Padahal Indonesia memiliki sejarah yang amat panjang dan kaya raya. Alangkah menariknya seandainya belajar sejarah juga terasa nikmat layaknya kita menikmati karya sastra. Hermawan Aksan (HA) memilih cara menikmati sejarah melalui cerpennya yang dimuat di harian Pikiran Rakyat, Sabtu 29 November 2008. Meskipun yang dijadikan latar belakang cerita adalah sejarah pra Indonesia yang jah dari hiruk pikuk kontroversi. Namun setidaknya, bisa menghindari rasa bosan sebagimana ketika kita membaca buku sejarah. Tentu saja, terdapat unsur subyektif pengarang di dalamnya. Hal ini sah-sah saja, menurut saya, sepanjang dalam rangka membentuk unsur dramatis atau memperindah cerita itu sendiri, seperti Cinta Sang Jatmika (CSJ) ini. Saya kemudian teringat masa SMA tahun 80-an. Ketika Guru Sejarah menceritakan kisah prabu Sempakwaja dan Prabu Mandiminyak. Sontak kami tertawa mendengar nama tokoh yang kedengaran aneh di telinga tersebut. Bagaimana tidak, kosa kata sempak yang kami kenal saat itu artinya adalah celana renang. Kok bisa jaman sejarah kerajaan Sunda sudah mengenal barang itu. Ternyata, setelah membaca CSJ, sempak berarti luruh, runtuh, atau tanggal. Sempakwaja dengan demikian diartikan sebagai seseorang yang semua giginya tanggal (ompong). O...jadi tidak ada hubungannya dengan benda modern yang ada dalam benak kebodohan kami saat itu. Dari CSJ ini ingatan kembali mengarungi jaman awal kerajaan Galuh, yang merupakan kerajaan tertua di tanah Sunda yang berpusat di lereng Galunggung (dan hampir semua kerajaan tua di jawa pada awalnya berpusat di daerah pegunungan karena lahan yang subur tentunya). Saya membayangkan jika setiap pengajar sejarah memiliki kreativitas seperti yang dimiliki para pengarang, tentu pelajaran sejarah di sekolah menjadi lebih hidup. Siswa tidak takut karena harus menghafal silsilah raja-raja yang gelarnya terkadang amat panjang itu. Juga akan semakin mudah memahami latar belakang peristiwa, konflik, serta keruntuhan kerajaan-kerajaan di Indonesia jaman dahulu. Dengan demikian sejarah akan dipahami secara utuh dan dapat dijadikan pelajaran sesungguhnya. Bukan pelajaran yang dilupakan usai diujikan
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |



