Friday 30th of July 2010

news blog logo
news menu leftnews menu right
Resensi
The Power Of White Water
Ditulis Oleh Ash   
Kamis, 08 January 2009 09:41
 Judul Buku The True Power of Water (edisi terjemahan)
 Pengarang Masaru Emoto
 Tahun 2006
 Penerbit 

 

 http://www.guardiantrader.com/Water_Crystals.html

Jangan remehkan kebiasaan membaca do'a sebelum minum. Jangan berkata-kata tidak baik di sekitar air yang kita minum. Jauhkan juga tempat air dari gambar-gambar atau kalimat-kalimat yang negatif.

Itu kalau kita tidak mau menghilangkan dahaga dengan 'racun. Karena air akan bereaksi terhadap lingkungan sekitarnya. Terhadap pesan , kata atau kalimat yang kita 'sampaikan'. Semakin baik pesan yang kita sampaikan, semakin baik reaksi yang ditimbulkan, semakin berguna air dalam proses metabolisme tubuh sebagai tidak sekedar sekumpulan molekul. Tetapi sebagai sebuah energi poditif.

Begitu dahsyatkah pengaruh lingkungan terhadap kualitas air? setidaknya telah dibuktikan oleh Masaru Emoto dalam The True Power of Water (2006).

Air ternyata bukanlah sekedar 'benda mati' belaka yang tidak akan bereaksi terhadap situasi dan kondisi sekelilingnya. Air memiliki kemampuan menyimpan dan merespon pesan atau informasi. Respon ini dapat diketahui dari pola kristal yang terbentuk setelah sebuah perlakuan diberikan terhadap air. Kristal air terbentuk pada suhu tertentu dan dapat diamati melalui mikroskop, bahkan sekarang sudah bisa didokumentasikan dalam bentuk foto. Konon, durasi waktu dari mulai terbentuk, mengembang, hingga menghilangnya kembali kristal sekitar dua menit. Pola kristal yang terjadi ternyata akan berbeda tergantung kepada 'pesan' yang disampaikan. Dalam penelitian, air dalam gelas yang bertuliskan kata "bodoh" membentuk kristal air yang tidak sempurna atau bahkan tidak terjadi kristal. Sebaliknya dengan air yang ditempatkan dalam gelas dengan tulisan kata "pintar" akan membentuk kristal yang sempurna dan indah. Demikian halnya jika tulisan itu diganti dengan kata-kata lisan yang langsung ditujukan kepada si air. Jadi (1), berhati-hatilah berperilaku disekitar air yang kita minum atau kita gunakan.

Saya jadi teringat kepada orang-orang 'pintar' dulu di desa sebelum banyak dokter. Setiap orang yang datang dan mengeluh sakit selalu hanya diberi air putih. Segelas air putih yang telah ditiup dengan doa-doa. Para kyai di pesantren telah lama menggunakan media air putih yang dibacakan doa-doa untuk menambah kekuatan fisik santrinya. Namun ternyata kekuatan yang ditimbulkannya luar biasa.

Energi positif adalah energi yang diperlukan untuk membangun dan mengembangkan kehidupan. Sebagaimana dikatakan Emoto," Agar dapat hidup sehat, berfikirlah positif". Kita mungkin sering mendengar atau mengalami sugesti. Semacam rasa percaya dan keyakinan bahwa apa yang kita lakukan sudah benar. Perasaan ini ditandai dengan rasa tenteram, tenang, nyaman, dan keyakinan positif. Dalam dunia medis sugesti telah menjadi obat non resep yang manjur dalam menolong kesembuhan penyakit pasien. Tidak lain adalah pancaran energi positif dari dalam fikiran kita yang akan diperkuat oleh energi positif yang bertebaran di alam raya (Dalam hal ini telah terjadi perjumpaan ide antara The True Power Of Water dengan The Secret).

Buku ini juga membeberkan hasil riset yang dilakukan oleh Emoto dalam menyelidiki fenomena terbentuknya kristal air setelah dikondisikan dalam suatu lingkungan tertentu. Anda pasti akan terkejut melihat batapa air ternyata adalah 'mahluk' yang sangat sensitif.

Orang yang berfikiran positif cenderung melakukan hal-hal positif dan secara psiokolgis dia akan tenang. Orang yang berfikiran negatif berkecenderungan sebaliknya dan secara psikologis akan merasa gelisah bahkan terancam. Berkaitan dengan kamampuan air dalam menerima pesan dan memberikan respon, maka orang yang menjalankan agamanya dengan baik dan berdoa dengan sungguh-sungguh akan memberikan kekuatan kepada air untuk membentuk kristal, meniupkan energi positif yang berguna (bagi penyembuhan penyakit misalnya). Energi yang dibawa oleh air yang telah diberi do'a akan menetralisasi gelombang negatif yang dipancarkan oleh bagian tubuh yang sakit tersebut.

Jadi, jangan lupa berdoa sebelum minum maupun sebelum menggunakan air untuk keperluan lain.

 

 
Senandung (lirih) Oemar Bakri
Senin, 22 Desember 2008 06:18
Judul CepenGuru Safedi
PengarangFahrizal Sikumbang
Dimuat diKompas Minggu, 14 Desember 2008
  

Geger permasalahan dunia pendidikan di Indoesia adalah bukan hal baru, melainkan hal lama yang secara ironis tidak pernah berhenti dala penyelesaian yang tepat. Sehingga setiap ada momen terkait dengan pendidikan mau tidak mau yang lebih mengemuka adalah keprihatinan semua pada masalah itu. Fahrizal Sikumbang, kembali mengingatkan kita bahwa masih ada yang belum selesai dengan persoalan dunia pendidikan kita.

Ketika di sahkan Undang-undang Pendidikan Nasional, pro kontra merebak dan masalah tersisa. Ketika menghadapi ujian akhir smester (UAN, UASBN, dst) permasalahan kembali merebak, tidak tuntas juga. Ketika implementasi APBN 20% untuk pendidikan, persoalan kembali mengemuka. Yang aktual adalah masalah disahkannya beberapa perguruan tinggi mejadi BHP yang memancing demo cukup luas. Yang terakhir ini sudah banyak makan korban entah dari pihak aparat maupun dari para demonstran.

Uraian itu bisa menggambarkan betapa carut marutnya dunia yang memegang peran kunci bagi terciptanya sumber daya manusia indonesia yang mampu bersaing di kancah internasional yang semakin ketat dewasa ini. Lalu masihkan kita berharap dari sistem yang kacau balau itu akan tercipta generasi ideal yang sanggup menghadapi tantangan global?

Simaklah betapa Guru Safedi harus menyiasati kebutuhan hidupnya yang tak mampu ditanggulangi hanhya dengan mengandalkan bayarannya sebagai guru honorer. Kemudian bagaimana sebagai seorang guru (muda) menemui banyak perlawanan dari guru (tua) lain yang tidak menghendaki atau enggan melakukan perubahan, meskipun perubahan itu diamanatkan oleh undang-undang. Di luar sekolah, sebagai guru yang digugu dan ditiru dia juga harus menghadapi masyarakat yang tidak mau tahu, masyarakat yang menuntut, masyarakat yang hanya tahu janji-janji kampanye dulu.

Guru Safedi harus terpinggirkan karena memerjuangkan ide-ide pembaharuannya di sekolah. Ia juga tersisih akibat kemampuan ekonominya amat terbatas. ia menjadi metafora dari paradoks dunia pendidikan kita yang mengharap hasil emas namun hanya menuai benang kusut.

Penulis cerpen ini, sungguh telah membangkitkan luka lama yang belum juga kunjung sembuh. Luka yang dianggap sepele oleh mereka yang sibuk berpolitik, sibuk berdagang.

Pertanyaan bagi kita, " masihkah kita berharap anak-anak kita tumbuh cerdas, jujur, pintar, dan mandiri dengan mesin cetak yang berkarat dan sering mati listrik?

 

 

 
Ada Cinta Setelah Bermimpi
Ditulis Oleh KH   
Jum'at, 05 Desember 2008 04:02

Judul Buku : Maryamah Karpov

Pengarang : Andrea Hirata

Tahun : November 2008

Penerbit : Mizan

 

Km57-Masih (tetap) mendebarkan jantung! membaca lembar demi lembar, dari halaman pertama hingga terakhir buku ke empat paling fenomenal tahun 2008 ini. Setelah menunggu beberapa bulan dalam rasa penasaran dan keingintahuan, terbayar sudah. Namun lunas di sini bukan berarti cukup, tidak. Sebab akhir cerita tetap menyisakan tanya yang tidak kurang menggodanya.

Pengembaraan fisik dan emosi yang dilakukan tokoh utama cerita, sepintas telah menemukan jawabannya pada buku ke empat. Tetapi ternyata Penulis cukup cerdas untuk tidak mengakhirinya begitu saja. Tidak ada akhir bahagia versi sinetron atau film Indonesia. Jadi, bersiaplah untuk buku ke lima, ke enam, dan seterusnya.

Sedikit mengganggu adalah ketika kita membaca judul (yang telah kita ketahui sebelum bukunya terbit). Hanya kurang dari 5 halaman yang bercerita tentang tokoh yang dijadikan judul buku ini. Itu pun hanya sepintas lalu sebagai figuran. Bahkan proses penamaannya juga tidak terlalu disinggung sebagaimana tokoh-tokoh yang lain. Ingatan kita tetang seorang Nurmi kecil beserta Maryamah yang mengalami kesulitan hidup sehingga memaksa Arai membongkar tabungannya kurang mendapatkan porsi yang memadai. Juga kepiawaiannya memainkan biola hanya disinggung sekedarnya, hanya karena Ikal belajar secara kilat memainkan biola, tetapi jelas bahwa tujuannya bukan di situ. Belajar memainkan biola hanya sebagai pembanding dan penguat logika bahwa segala sesuatu mungkin saja dikerjakan dengan menggunakan ilmu (perhitungan), sebagaimana akhirnya Ikal berhasil membangun sebuah perahu. Namun, Maryamah hanya sepintas lewat. Maka terlalu besar sebenarnya untuk menyandang predikat sebagai judul bukunya.

Tema utama dalam buku ke empat ini adalah Cinta. Bukan lagi mimpi-mimpi kecil anak-anak Belitong. Ikal membuktikan bahwa kekuatan Cinta mampu mengubah segalanya, mampu membangkitkan kekuatan, dan -menurut sebuah iklan- membuat hidup lebih hidup! Karena mimpi-mimpi itu (rupanya) telah usai seiring semakin kerasnya kehidupan yang memaksa anak-anak laskar pelangi menjadi pribadi-pribadi realistis. Mimpi Ikal pun terpaksa harus berakhir karena masa studinya selesai dan dia harus kembali menjadi anak melayu yang setiap hari berhadapan dengan persoalan. Lebih tepatnya, menjadi bagian dari persoalan ruwet bangsa yang bernama Indonesia. Ini bisa kita lihat ketika pertama menjejakkan kaki di bandara sepulang dari luar negeri, menumpang KM Lawit, Naik Bus, dan kembali ke tengah maysarakat. Tak mengapa, karena Ikal toh sudah berhasil meraih mimpi-mimpinya. 

Lalu apakah dengan begitu kita juga harus berhenti bermimpi? Tidak, selama mimpi itu memberi kekuatan. Tetapi yang lebih penting lagi ternyata adalah cinta. Barangkali kombinasi antara mimpi dan cinta. Mimpi Ikal untuk sekolah tinggi didasari rasa cintanya yang amat dalam terhadap ayahnya, dan A Ling tentu saja.

Tetapi ternyata Ayah Juara Nomor 1 yang sangat dicintainya itu tidak mengabulkan permintaanya untuk meminang A Ling. Oh..kejamnya...

 
Sejarah Dalam Cerita Pendek
Ditulis Oleh Hasan   
Senin, 01 Desember 2008 08:21
JudulCinta Sang Jatmika
PengarangHermawan Aksan
Hari/Tanggal TerbitSabtu/29 November 2008
Dimuat diHarian Pikiran Rakyat, Bandung

Km57-Pepatah mengatakan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya (dan karenanya tidak melupakan sejarahnya). Hampir semua bangsa yang besar adalah bangsa yang berhasil belajar dari sejarah perjalannnya. Maka belajar dan mempelajari sejarah menjadi bagian penting dalam kurikulum pendidikan. Namun acap kali kita mendengar keluhan betapa pelajaran sejarah terasa membosankan. Anak-anak sekolah hanya sibuk menghafalkan di luar kepala nama-nama tokoh, tempat, dan tahun peristiwa masa lalu. Hal ini bisa jadi karena sistem pengajaran yang terlalu textbook sebab pengajar tidak memiliki kompetensi yang memadai. Lebih tragis lagi karena pengajar sendiri tidak memiliki minat untuk mempelajari sejarah (bagaimana pula dia bisa mengajarkannya secara baik?). Sementara di ranah politik yang lebih luas, sisa dominasi rejim diktator yang memaksakan sejarah versi penguasa belum sepenuhnya bisa dihilangkan dari fikiran. Sejarah, kata Taufiq Ismail, dengan paksa telah dibengkokkan. Kebenaran dimonopoli, ideologi dikontrol, dan tafsir atas sejarah hanya boleh diproduksi lembaga resmi. Pendek kata, nyaris tidak ada sejarah (pernah suatu saat) adalah kisah kepahlawanan penguasa.

Namun, sejarah selalu memiliki jalan sendiri. Ketika rezim berubah, berubah pula cara pandang mengenai sejarah. Sejarah selalu berulang dan memilih siapa yang pahlawan sejati, serta siapa yang hanya memanipulasi. Banyak kemudian versi sejarah 'baru' yang mengoreksi sejarah resmi penguasa.

Di wilayah...
 


Awal Pertimbangan

wisata



Kampanye Hijau


Diedit dari Joomla! Designed by: Free Joomla 1.5 Template, domain instructions. Valid XHTML dan CSS.