Komentar Masuk
| Ande-ande Lumut |
| Ditulis Oleh | ||||||||
| Kamis, 01 January 2009 14:26 | ||||||||
(" Yya..begitulah. Aku kira aku yang datang terlampau awal. Eeh, rupanya aku kalah cepat". Aku mencoba sebisaku menguasai adrenalin yang membanjir di kepala dan jantung. Menghadirkan dissinkronisasi respon dengan tindakan. Pertama kalinya secara sadar perintah otakku tidak diindahkan oleh anggota tubuhku yang lain (dunia kedokteran menyebutnya sebagai stroke). Ke mana perginya semua ide dalam tulisanmu yang sok kritis itu. Mana visi tentang hidup yang kau banggakan dalam blog-mu, mana? mana? Mana si Ande-ande lumut itu? Semua yang ku tuliskan seakan tersangkut di kerongkongan, semua yang kubayangkan seolah lenyap terserap pancaran pesonanya. Aha...jutaan malaikat kecil sedang terkekeh melihatku, jutaan peri menyemai kembang di hatiku, jutaan...ya jutaan. Satu jam, dua, tiga, dan malam sudah mulai menua. Hingga akhir pertemuan, gelora dalam dada masih belum sepenuhnya reda. Apa boleh buat, copy darat harus dihentikan. Sebuah cerita telah mulai dibangun, nanti ku ceritakan kepadamu. Aku janji.)Kota, pusat keramaian yang menyimpan di dalamnya ruang-ruang sepi kehampaan. Tempat di mana individu memiliki keistimewaan untuk utuh menjalani egonya. Tempat di mana orang berbondong, terburu, berjuang, dalam kesendiriannya masing-masing. Sungguh, setiap hari orang tergesa pergi ke mana saja. Berebut memperoleh apa saja, riuh seperti laron berkerumun di sekitar petromaks nun di kampungku dahulu. Setiap orang, setiap saat mudah mendapatkan mimpi-mimpinya, namun setiap saat juga orang bisa terjerembab, ke dalam lubang gelapnya. Kota, juga, ruang persembunyian gelisah jiwa di tengah hingar bingarnya. Kota, juga, segala yang terang dan segala yang gelap pekat. Kota adalah paradoks. Sebagaimana hidup pada umumnya. Inilah janjiku. Setelah kencan pertama di 'dunia nyata' itu. Sejak saat di mana aku gugup gagap bak bayi belajar bicara. Melihatnya tanpa mengenalnya, pasti akan menurunkan beberapa tingkat kepercayadirian kita (percayalah, aku pernah mengalaminya). Perempuan mapan di usia yang belum lagi menginjak angka 25. Pria mapan dalam posisi yang sama dengannya adalah keniscayaan. Karena begitu banyak kesempatan dan peluang diberikan kepada mahluk dari Mars ini. Ya, meskipun praktek segregasi jender tidak ada, namun harus diakui bahwa secara tradisional kesempatan dan peluang yang dimiliki pria lebih banyak dibanding wanita. Tetapi wanita? Maka dia adalah pengecualian, keistimewan lebih tepatnya. Jadi, kalau tidak benar-benar bernyali, sebaiknya mundur saja dari perempuan macam ini. Nick Name itu sungguh-sungguh sebuah penyamaran yang amat sempurna. Judul sebuah sajak seorang Pujangga besar, yang tercipta karena kesunyian jiwanya mendamba cinta, yang bertolak belakang dengan gelora semangat dan idealismenya yang nyaris selalu tertumpah lewat tulsan dan kata-katanya. "Apalah arti sebuah nama", katanya. Ya, apalah artinya. Aku jadi teringat sebuah obrolan antara Minke dengan Nyai Ontosoroh dalam Anak Semua Bangsa. Orang Jawa menggunakan nama-nama atau gelar-gelar yang besar-besar. Seakan dunia adalah kecil saja, Jawa saja. Atau barangkali dunia dalam fikiran mereka hanyalah Jawa saja. Faktanya, Jawa dijajah selama lebih dari 350 tahun! Jadi aku mengiyakan pendapatnya. Tetapi Njanji Soenji memang sebuah sajak. Sajak kerinduan di riuh gemerlap kota, yang ku ciptakan. Karena bisa jadi Dia memiliki ruang-ruang gelap sepi yang jauh tersembunyi dan tertutup rapat.
Masih jelas membekas di bayanganku kelebat rambut dan jernih tatapannya. Persis seperti terukir dalam foto yang kini tengah lekat ku pandangi di atas meja. Kotak seukuran kartu pos itu telah menggantikan gambar sepasang kucing persia yang lama bertengger di samping alroji. Ia adalah seorang pekerja yang mapan, cantik lagi. Masa-masa sulit sebagai pengangguran terdidik telah dilewatinya. Tampaknya, sebentar saja waktu dan sedikit jarak yang akan dilaluinya untuk mewujudkan mimpi dan cita-citanya. Namun, sejengkal jarak dan waktu itu ternyata terus memanjang serupa fatamorgana. Semakin hari semakin kurang waktu yang dirasakan. Semakin dekat, semakin nyata bahwa ufuk langit selalu bergerak menjauh. Ia harus lebih banyak belajar untuk berkompromi dan memendam idealismenya. Terjepit di antara pilihan karier dan keinginan hatinya, dia habiskan sisa waktunya untuk berkelana di dunia maya. Tidak tergoda untuk berhura-hura atau clubbing walaupun kesempatan dan kemampuannya amat mendukung. Mataku menerawang jauh menusuk mata dalam foto itu dan melihat dunia dari sana... Aneh memang, orang bekerja menghabiskan sebagian besar waktu dalam hidupnya. Tetapi ketika sampai pada pertanyaan mendasar mengenai kepuasan, kebanggaan, dan kebahagiaan, mereka akan menjawabnya bahwa itu ada di rumah. Juga kota ini. Yang setiap hari berpacu, setiap saat bergerak, dan menyajikan segala macam hal. Namun kebahagiaan itu terdapat jauh di kampung halaman. Lalu apa artinya semua kemajuan yang telah dicapai manusia? Aku membenarkan pertanyaannya, namu tidak menjawabnya. Cukuplah ungkapan keprihatinannya itu menjadi bisul yang pecah.
Panji Inu Kertapati membutuhkan empat puluh hari bertapa untuk mendapatkan kembali pujaan hatinya. Di hari ke empat puluh kegelisahannya memuncak sebab tiada sebersit jua tanda kalau penantiannya bakal berakhir. Keyakinannya nyaris goyah ketika yang ditemukannya adalah kemunafikan yang terbungkus raga ayu rupawan. Semua yang dicintainya perlahan berubah ujud menjadi sosok tanpa hati. Mengapa cinta yang dijumpainya bisa berubah wajah. Mengapa cinta yang diterimanya harus menuntut. Mengapa cinta tidak sederhana, hanya memberi, memberi, dan memberi. Di mana ketulusan cinta itu? Namun seorang gadis kumal datang dengan ketulusan dan keyakinan, memorak porandakan keraguannya. Inilah yang selama ini dicarinya. Gadis dari lorong sunyi yang mendamba pangeran penghibur dan pengisi hidupnya. Dan ia tidak perlu mengikuti Sri Rama yang harus menguji 'kesucian' Shinta ketika hendak menerimanya kembali. Tidak, kesucian cinta lebih utama dari sekedar keutuhan ragawi belaka. Sejak saat itu waktu mulai menggetarkan sekaligus meneguhkan, membekukan sekaligus memanaskan, dan berjalan, sekaligus diam. Akulah planet yang tercecer dari orbit. Terlontar dari galaksi karena tidak cukup energi. Dan sekarang tengah memasuki gerbang lubang hitam yang menihilkan semua hukum alam, semua menjadi paradoks. Dan cinta adalah lubang hitam itu, aku dilumatnya.
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
wisata
Kemisan
| Oalah...Indonesiaku |
Menyeruak secara tiba-tiba di tengah gegap gempita kampanye capres-cawapres, dua wanita Indonesia ini memaksa perhatian kita masing-masing dengan peristiwanya yang boleh dibilang klasik namun ternyata masih menyisakan pertanyaan yang belum tuntas jawabnya. Pertama adalah kasus Manohara, perempuan jelita yang memiliki kisah bak dongeng sebelum tidur ini begitu gencar diliput media (infotainment) akibat antiklimaks jalan cerita yang dialaminya. Entah mengapa kasus ini menyita begitu banyak perhatian media massa di saat ribuan perempuan Indonesia di negeri jiran itu yang, bahkan, mengalami nasib lebih buruk. Beruntungnya Manohara, setidaknya, Ia bisa kembali ke pangkuan keluarganya dengan selamat. Beruntungnya pula ia karena selain liputan media, ia juga 'didukung oleh negara' . Ia juga memiliki keluarga yang mampu menjadikan kasus tersebut menjadi penting dan layak untuk dibela. Kita tenta mafhum dengan banyaknya kasus serupa yang menimpa TKI (wanita) kita di luar negeri. Tidak jarang mereka hanya kembali jasadnya saja yang sudah kaku terbujur, banyak lainnya yang masih tersekap ,disiksa, diperkosa, dan tidak memiliki seorang pun yang peduli apalagi membelanya. Tidak terdengar gegap gempita liputan media ataupun limpahan simpati dari khalayak umum. Bahkan negara pun sering terlihat serba gamang. Inilah potret yang masih sering kita saksikan sampai dengan sekarang ini. TKW kita sering pulang dengan luka disekujur badan dan depresi tanpa siapa peduli, Manohara yang cantik pulang dan segudang skenario sinetron sudah menunggu. Wakakak..kakak...kak... Kedua, tentu saja, adalah kasus yang menimpa ibu rumah tangga beranak balita 2 orang, Prita. Kasus Prita (VS RS OMNI) mendadak menjadi pusat perhatian orang tidak saja para pelahap gossip. Bahkan sampai Presiden dan Capres-Cawapres ikut cawe-cawe menunjukkan simpatinya. Para pejabat terkait pun turut serta dibuat sibuk. Kasus ini sepertinya sepele. Hanya masalah surat elektronik mengenai ketidakpuasan seorang pasien sakit yang disampaikan kepada kalangan dekat pasien. Namun sontak berubah menjadi kasus penting ketika aparat penegak hukum dengan gagah berani menerapkan pasal-pasal tindak pidana serius dengan ancaman hukuman labih dari 5 tahun. Logika hukum mengatakan dengan ancaman hukuman seperti itu maka tersangka harus ditahan. Maka Prita pun menjalani kehidupannya di balik jeruji ruang tahanan, terpisah dari suami, dan yang menyedihkan, terpisah dari dua buah hatinya yang masih mungil. Publik sontak terkejut dan berekaksi keras. Ribuan pendukung cause di situs jejaring Face Book, komentar para ahli hukum, pakar HAM, dan masyarakat luas, senada mempertanyakan langkah penahanan Prita. Hanya karena berkirim surel mengenai curahan ketidakpuasannya atas pelayanan RS. Orang mencibir langkah RSO yang seperti membunuh nyamuk dengan senapan mesin. Orang juga mencibir langkah penegak hukum yang menerapkan pasal-pasal tersebut yang menyebabkan Prita ditahan. Publik jelas menyaksikan ketidakadilan yang amat telanjang di sini. Lebih dari itu, publik kembali menyadari bahwa kebebasan berekspresi mengeluarkan pendapat yang merupakan HAM (diam-diam) masih ada yang tidak sepakat, masih menghadapi ancaman serius, justru di era reformasi yang penuh euforia kebebasan! Bau busuk di belakang kasus ini pun mulai dicurigai berbagai kalangan. Siapa yang bermain kekuasaan sehingga menyeret persoalan yang sederhana ini menjadi terlihat berat dan serius. Ada apa di balik penerapan Undang-undang ITE dalam kasus itu? Sisi baiknya, dua berita itu sungguh telah membangunkan kita dari mimpi-mimpi indah dan janji-janji kosong para juru kampanye capres-cawapres. Selamat menikmati... |




Sukses untukmu kawannnn.....blog yan...
weh, ini cerita klasik siapa n kapan...
weh, ini cerita klasik siapa n kapan ...
bagus juga isi bukunya. Ada gak ya di...
Lhaaaaah iya kie... cerita-cerita kay...