Komentar Masuk
| Pinus Merkusii |
| Ditulis Oleh | ||||||||
| Kamis, 01 January 2009 14:22 | ||||||||
|
Jalan itu membelah tepat menjadi dua bagian pemukiman. Menanjak teratur dari lembah sungai terus ke atas menuju lereng gunung, lenyap dari pandangan bersama membirunya pepohonan. Kalau kita berjalan dari arah bawah pada saat cuaca cerah maka gunung itu seolah sedang berdiri menunggu di penghujung horison, tinggi menjulang dengan pucuknya yang seperti mangkuk terbalik. Angkuh namun terlihat damai dalam keheningan warna birunya, sedamai suasana pemukiman itu. Pohon-pohon pinus yang menusuk langit menjadi pagar penjaga sisi jalan. Aku masih ingat betul, dan akan selalu teringat. Juga ketika semua kedamaian itu berubah menjadi badai dalam hatiku, kerinduanku untuk selalu bisa pulang ke rumah masih tetap menggebu. Hingga kini, setelah dua puluh tahun peristiwa itu berlalu. "Mas, main ke Jk!" singkat namun jelas tidak sesingkat itu akibatnya. Aku dengan tergopoh-gopoh melihat kembali jadwal imajiner yang ada dalam benakku. Beberapa rencana ku coret, sebagian ku tunda, dan sisanya aku ajukan permintaan maaf karena terpaksa dibatalkan. Semua demi memenuhi panggilan tugas maha penting, hadir di 'kota'-nya. Sudah sejak kecil kami saling mengenal. Kami berteman seperti kebanyakan anak-anak yang lain, bermain bersama, bertengkar, damai lagi, bermain lagi, begitu sering terjadi. Beberapa hari itu terjadi intensitas hubungan yang aku sendiri tidak mengerti, sejak aku bertemu kembali saat libur lebaran, di suatu sore yang berkabut tipis. Entah sudah berapa lama tidak pernah bertemu dan dia sudah menjadi gadis dewasa. Kuliah di kota menjadikannya kembang desa yang terawat secara modern, cantik dan berpendidikan. Sungguh sebuah kombinasi yang amat menarik. Tersenyum manis dia mengulurkan tangan bertanya kabar. Dan secara terus terang ku ungkapkan pujian sambil menggenggam erat tangannya lama-lama, menikmati senyumnya, mata hitam yang teduh, kulit wajah yang bersih (Ah, kemana saja kau selama ini?). "Wah, hebat. Sudah lulus kuliah dan bekerja. Kapan menikah?" Basa-basi atau tembakan jitu, aku tidak yakin. Tetapi Aku tak mau kalah iseng. "Ya, tinggal nunggu jawaban. Ya atau tidak, beberapa saat lagi." "Jangan lupa undangannya ya." Pasti, batinku. Ku pastikan engkau hadir dalam akad nikahku. Ku pastikan engkau ada di resepsi pernikahanku. Seorang gadis manis harus ada di sana. Kini setiap ku pulang pasti karena keinginan amat sangat untuk menemuinya lagi. Untuk mendengarkan ceritanya. Untuk menyaksikan wajah dan senyumannya. Untuk menghilangkan haus dengan kesejukan matanya. Hari-hariku selalu dipenuhi bayangannya. Lamunanku selalu tentang dirinya, dan khayalanku adalah bersanding dengannya.
Maka datang mengunjungi kota tempatnya belajar adalah keinginan pertamaku setelah berpisah. Sekian lama mencoba menjadi orang yang paling dekat di sisinya, menjadi teman yang paling menyediakan diri untuknya, memupuk harapan, merangkai khayalan. Dari Jatinegara aku berangkat. Roda kereta dengan gagah berderak menyusuri rel sepanjang Jakarta-Jk, membawa kereta melaju seperti memburu waktu. Dan irama riang yang mengiringi setiap deraknya adalah gembira hatiku yang tak terkira. Menantkan perjumpaan setelah penat menahan rindu berbulan-bulan. Ah, cinta. Dengarlah degup hatiku mengalahkan gemertak roda besi. Dengarlah nyanyi jiwaku senyaring bising serulingmu. Lihat, lihatlah hati ini yang penuh bunga bermekaran. Segala rasa indah bersatu memenuhi dada. Seperti jejalan penumpang yang memenuhi seluruh gerbong... Pukul 19.00 aku mengetuk pintu rumah kost-nya. Tik..tik..tik..detik berlalu lambat di tengah jantung yang berdegup cepat. Seorang anak kecil bertanya, dan aku dipersilakan menunggu di teras. Detik yang merangkai menit, menit yang merangkai jam, dan jam yang merangkai waktu. Ketika waktu berlalu, kebimbangan datang. Sejenak ku ingat saat-saat manis aku menemuinya. Saat pertama ku jabat tangan dan ku genggam erat jarinya. Saat ku nikmati senyumnya di bawah tatapan iri bulan purnama, di bawah penjagaan gunung yang menjulang di ujung horison. Aku tersenyum, ada sebuah getar halus di fikiranku. Tak terasakan oleh hasrat yang begitu meluap. Sorot terang lampu sebuah kendaraan yang memasuki halaman rumah membuyarkan lamunanku. Aku halangkan telapak tangan menutupi sinar itu, tetapi tetap saja silau. Grab! pintu mobil terturup kembali dan lampu telah dimatikan. Sisa terang sinar itu membuat padanganku sedikit kabur dan buyar. Dan tahu-tahu gadis yang ku tunggu-tunggu sudah berdiri di hadapanku. Dengan senyum yang sama seperti ketika dulu pernah ku jabat tangan dan ku genggam jarinya. Ingin ku ulangi, tapi kini ia tidak segera mengulurkan tangannya. Ia memperkenalkan seseorang yang berdiri dekat dengan tangan melingkari pinggangnya. Seperti orang hendak meninggal yang konon menjadi segar ingatannya akan rentetan peristwa dalam hidupnya. Aku pun menguraikan satu demi satu kenangan itu. Dan inilah saat kematian itu. "Perkenalkan Mas Tom, ini teman sekolahku dulu di SMA". Tangan pria itu terulur ke arahku dan Aku dengan enggan menjabatnya. Aku seharusnya sudah tahu jawabnya. Aku seharusnya tahu mengapa ada nada khawatir ketika aku kembali menelponnya untuk datang hari ini. Aku tahu, aku telah salah menyimpulkan sikap-sikapnya selama ini terhadapku. Ia memperkenalkan diri sebagai...sebagai kekasihnya. Sungguhpun semua kesalahan itu ditimpakan kepadaku kini, namun tak urung gemuruh gundah memenuhi dada. Semua kristal bisa disambung kalau patah, namun ia tetap meninggalkan bekas luka. Seperti yang sekarang menganga di hatiku. Pucuk-pucuk pinus itu masih setia menusuk-nusuk udara dingin seakan hendak menjangkau langit. Jalan itu masih membelah dua pemukiman dan dari bawah menuju ke atas akan tampak gunung yang berdiri gagah di ujung horison. Jalan itu perlahan hilang bersama gelap warna rimbun pepohonan. Pinus merkusii, yang juga ku tanam di halaman rumahku. Aku akan selalu ingat. Karena di pucuknya aku pernah menitipkan dendam hatiku untuk dilontarkannya bersama angin, jauh ke puncak gunung yang seperi mangkuk terbalik itu. Sekarang, setelah dua puluh tahun itu, pinus-pinus itu bertambah banyak.
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
wisata
Kemisan
| Oalah...Indonesiaku |
Menyeruak secara tiba-tiba di tengah gegap gempita kampanye capres-cawapres, dua wanita Indonesia ini memaksa perhatian kita masing-masing dengan peristiwanya yang boleh dibilang klasik namun ternyata masih menyisakan pertanyaan yang belum tuntas jawabnya. Pertama adalah kasus Manohara, perempuan jelita yang memiliki kisah bak dongeng sebelum tidur ini begitu gencar diliput media (infotainment) akibat antiklimaks jalan cerita yang dialaminya. Entah mengapa kasus ini menyita begitu banyak perhatian media massa di saat ribuan perempuan Indonesia di negeri jiran itu yang, bahkan, mengalami nasib lebih buruk. Beruntungnya Manohara, setidaknya, Ia bisa kembali ke pangkuan keluarganya dengan selamat. Beruntungnya pula ia karena selain liputan media, ia juga 'didukung oleh negara' . Ia juga memiliki keluarga yang mampu menjadikan kasus tersebut menjadi penting dan layak untuk dibela. Kita tenta mafhum dengan banyaknya kasus serupa yang menimpa TKI (wanita) kita di luar negeri. Tidak jarang mereka hanya kembali jasadnya saja yang sudah kaku terbujur, banyak lainnya yang masih tersekap ,disiksa, diperkosa, dan tidak memiliki seorang pun yang peduli apalagi membelanya. Tidak terdengar gegap gempita liputan media ataupun limpahan simpati dari khalayak umum. Bahkan negara pun sering terlihat serba gamang. Inilah potret yang masih sering kita saksikan sampai dengan sekarang ini. TKW kita sering pulang dengan luka disekujur badan dan depresi tanpa siapa peduli, Manohara yang cantik pulang dan segudang skenario sinetron sudah menunggu. Wakakak..kakak...kak... Kedua, tentu saja, adalah kasus yang menimpa ibu rumah tangga beranak balita 2 orang, Prita. Kasus Prita (VS RS OMNI) mendadak menjadi pusat perhatian orang tidak saja para pelahap gossip. Bahkan sampai Presiden dan Capres-Cawapres ikut cawe-cawe menunjukkan simpatinya. Para pejabat terkait pun turut serta dibuat sibuk. Kasus ini sepertinya sepele. Hanya masalah surat elektronik mengenai ketidakpuasan seorang pasien sakit yang disampaikan kepada kalangan dekat pasien. Namun sontak berubah menjadi kasus penting ketika aparat penegak hukum dengan gagah berani menerapkan pasal-pasal tindak pidana serius dengan ancaman hukuman labih dari 5 tahun. Logika hukum mengatakan dengan ancaman hukuman seperti itu maka tersangka harus ditahan. Maka Prita pun menjalani kehidupannya di balik jeruji ruang tahanan, terpisah dari suami, dan yang menyedihkan, terpisah dari dua buah hatinya yang masih mungil. Publik sontak terkejut dan berekaksi keras. Ribuan pendukung cause di situs jejaring Face Book, komentar para ahli hukum, pakar HAM, dan masyarakat luas, senada mempertanyakan langkah penahanan Prita. Hanya karena berkirim surel mengenai curahan ketidakpuasannya atas pelayanan RS. Orang mencibir langkah RSO yang seperti membunuh nyamuk dengan senapan mesin. Orang juga mencibir langkah penegak hukum yang menerapkan pasal-pasal tersebut yang menyebabkan Prita ditahan. Publik jelas menyaksikan ketidakadilan yang amat telanjang di sini. Lebih dari itu, publik kembali menyadari bahwa kebebasan berekspresi mengeluarkan pendapat yang merupakan HAM (diam-diam) masih ada yang tidak sepakat, masih menghadapi ancaman serius, justru di era reformasi yang penuh euforia kebebasan! Bau busuk di belakang kasus ini pun mulai dicurigai berbagai kalangan. Siapa yang bermain kekuasaan sehingga menyeret persoalan yang sederhana ini menjadi terlihat berat dan serius. Ada apa di balik penerapan Undang-undang ITE dalam kasus itu? Sisi baiknya, dua berita itu sungguh telah membangunkan kita dari mimpi-mimpi indah dan janji-janji kosong para juru kampanye capres-cawapres. Selamat menikmati... |




Sukses untukmu kawannnn.....blog yan...
weh, ini cerita klasik siapa n kapan...
weh, ini cerita klasik siapa n kapan ...
bagus juga isi bukunya. Ada gak ya di...
Lhaaaaah iya kie... cerita-cerita kay...