Wednesday 08th of September 2010

news blog logo
news menu leftnews menu right

Cerita dan Resensi

Komentar Masuk

Ebeeggg....!!!
Peringkat User: / 0
JelekBagus 
Ditulis Oleh   
Senin, 12 April 2004 09:54

 

EbegMungkin pernah dengan sepenggal bait lagu karya Bang Haji Roma Irama yang bercerita tentang pertunjukan kuda lumping (ini kalimat nggak pake SPOK-Red). Begini antara lain syairnya :

…Ada satu permainan, permainan unik sekali

Orang naik kuda, tapi kuda bohong

Namanya kuda lumping…

                Seterusnya lagu itu bercerita bahwa yang  naik ‘kuda bohong’ itu orangnya kesurupan. Bisa makan rumput, bisa makan  padi,  bahkan bisa makan kaca. Sehingga kalau menonton tidak boleh dari dekat karena akibatnya bisa berbahaya.

…Aduhai ngeri sekali

Manten Sunat

                Pertunjukkan ini di daerah saya (Kabupaten Tegal, bagian selatan khsusnya) amat terkenal. Entah, belum ada studi yang mendalami sejarah dari mana asal muasalnya. Mungkin tidak terlalu menarik, atau mungkin karena pertunjukkan itu tidak dianggap sebagai suatu hasil dari proses kreatif manusia pelakonnya. Sepintas memang  hanya ‘pertunjukkan’ orang-orang kesurupan, menari-nari tidak karuan, dan lebih kental suasana magisnya. Busana yang dikenakannyapun tidak istimewa.

  Di desa saya (ini lho, maunya-Red), pertunjukkan ini agak sedikit berbeda dengan yang digambarkan Bang Haji.  Kuda lumping di sini tidak melulu disajikan dalam sebuah arena untuk kemudian ditonton.  Pertunjukkannya melalui sebuah prosesi arak-arakan keliling desa. Arak-arakan dimulai dari tempat ‘janturan’( prosesi pemanggilan roh oleh dukun untuk masuk ke dalam tubuh penunggang kuda, disebut ‘Ebeg’) di kaki gunung, atau di tempat-tempat yang sepi di pinggiran desa, menuju rumah sohibul hajat. Sebenarnya iring-iringan itu dalam rangka mengarak ‘pengantin sunat’ yang dinaikkan ke atas seekor kuda (yang ini kuda beneran). Didandani ala pangeran timur tengah lengkap dengan kaca mata hitamnya. Diiringi tetabuhan rebana dan kendang yang dinamakan terPengiringbang kencer sambil  melantunkan shalawat badar.

 

Para penontonnya, terutama para pria dewasa, madani alias memanggil-manggil nama Ebeg, dengan intonasi tertentu kadang mengejek, dan si Ebeg akan mengejarnya. Setelah orang dikejar dan tertangkap? Ebeg punya kebebasan unguk memukul, menyepak, dan menendang ‘korbannya’. Dan tidak ada yang akan marah atau protes. Tetapi biasanya sang pawang akan buru-buru melerainya. Tidak ada dendam atau kemarahan, karena si korban pun tertawa-tawa bangga. Sedangkan si Ebeg, tetap saja nanar tidak berekspresi, trance. Itu aturan tidak tertulis yang semua orang tahu dalam pertunjukkan Ebeg.

                Maka bisa ditebak, hanya yang bernyali cukup saja yang berani ikut dalam permainan kejar mengejar itu. Di sinilah uniknya. Sementara para wanita menjerit-jerit menyaksikan, para pria dengan bangga unjuk kejantanan. Dan Sang Pawang dibuat repot oleh ebegnya yang memang kesurupan itu berlari mengejar meski ke luar dari jalan dan belepotan lumpur sawah. Si Pangeran Timur Tengah asyik saja menunggang kuda sambil menyimpan kengerian esok hari burungnya mau disembelih.

                You've got the point? Aku. Tentu saja aku yang kurang suka dengan permainan bodoh ini. Aku buka tipe pejantan tangguh yang berotot kawat dan bertulang besi, bernyali  besar, dan...suka pamer! Mungkin levelku sama dengan adik permpuanku yang langsung menangis ketakutan dan bersembunyi di kamar begitu mendengar orang berteriak, " Ebeeggg....".

 Cuma karena aku malu adikku, aku malah menakut-nakutinya. Biasa, ini kan gejala orang yang tidak percaya diri tapi berlagak. Tidak mau disalahkan, apalagi dikalahkan (diam-diam aku memendam bakat untuk jadi politisi).

Meskipun kesurupan, Ebeg selalu mendengar namanya diteriakkan sehingga selalu tergoda untuk berlari mengejar. Mungkin yang terdengar bukan ejekan tetapi semacam panggilan naluriah. Semacam sura ‘kung’ dari pejantan kodok di musim kawinnya. Tingkat kegalakan ebeg ditentukan oleh seberapa susah ia disadarkan kembali. Proses penyadaran kembali ini pun menjadi tontonan yang tak kalah menarik. Beberapa orang pria yang kuat harus memegangi tangan, kaki, kepala, dan tubuh Ebeg. Kalau tidak, ia akan berlari lagi. Sepertinya roh yang bersemayam di tubuhnya enggan beranjak. Permintaannya pun  jadi bermaca-macam. Dari air kepala muda hingga soft drink. Sebelum itu dipenuhi, dia tidak akan sadar. Entah itu sekedar trik untuk dapat minuman gratis, aku tidak tahu. Semakin lama ebeg bisa disadarkan, semakin galak, semakin terkenal ia sebagai Ebeg papan atas. Tetapi semakin lunglai juga ia kalau sudah sadar dan kembali sebagai manusia. Apalagi, galak atau tidak, honornya sama saja.

Sebagai pelengkap dalam pertunjukkan tersebut, yaitu kehadiran sepasang ‘aul’.  Aul ini sebenarnya adalah laki-laki yang ‘didandani’ menjadi sepasang pria dan wanita (meskipun tidak jelas salah satunya). Masing-masing menganakan baju dari karung goni dan mengenakan topeng merah. Sepanjang  jalan hanya lenggak lenggok saja. Mereka juga tetap sadar karena tidak dimasukkan roh halis ek dalam tubuhnya. Tetapi mahluk ini yang paling ditakuti anak-anak. Topengnya berwajah menyeramkan! Entah apa yang hendak digambarkan oleh penggagas pertunjukkan mengenai hal ini. Bisa jadi hendak melambangkan karakter jahat sepasang manusia. Manusia yang mana, belum ada yang tahu.            

Sebagai sebuah pertunjukkan yang sifatnya massal (nah ini dia!) anda juga maklum dong, kalau histeria massa ini kerap dibumbui dengan aneka ketegangan. Bukankah memang massa itu tidak bertanggung jawab (lebih tepat disebut tidak bisa dimintai tanggung jawab), anonim, dan punya potensi destruktif yang besar?

Apalagi dengan kenyataan bahwa Ebeg, karena kondisinya yang kesurupan, boleh memukul, menendang, menyepak orang yang 'menggodanya'. Bisa ditebak kemudian akan ada oknum (ini yang selalu disalahin) yang memanfaatkan situasi ramai tersebut untuk melaksanakan agenda pribadinya. Pasti dia tidak cukup nyali untuk secara jantan menghadapi sendiri musuhnya itu.

Semua berawal dari lapangan sepak bola. Jauh sebelum David Beckam menjadi selebritis, sepak bola telah menjadi olah raga yang memiliki gengsi tersendiri di mata kami, anak-anak gunung. Gengsi ini makin menjadi manakala kami harus bertanding dengan tetangga desa. Entah dalam rangka sparing partner   atau acara tujuh belasan. Adu gengsi ini pada gilirannya dengan mudah akan menjadi adu jotos di lapangan. Sering kali acara persahabtan justeru menjadi awal dari permusuhan antar desa. Ujung-ujungnya tawuran. Dan jago berkelahi tidak jauh-jau dari jago gocek bola di lapangan.

Adalah Kirno, si Pengecut ini. Dendam karena tidak bisa membalas tackle di lapangan, dia menjadikan arena Ebeg sebagai pelampiasannya. Caranya? dia berlindung di balik kode etik ebeg. Menjadi Ebeg yang diperkenankan memukul tadi. Entah bagaimana triknya, dia bisa menjadi ebeg dengan pura-pura alias sepenuhnya sadar. Kata orang kalau pada saat dimasukkan roh ke dalam tubuh kita membaca basmallah, roh tidak akan merasuk. Dia mungkin memakai jalan itu.

Maka jadilah ebeg paslu ini beraksi. Berpura-pura trance, berlari liar, meradang, dan mengejar satu target, Kuri namanya. Dan karena ia palsu, maka yang digunakan untuk memukul target bukan kepalan tangan kosongnya tetapi ujung genta bandul kuda lumpingnua yang runcing itu yang dihujamkan ke kepala Kuri. Cres! Darah mengucur deras dari kepala. Kuri terhuyung pingsan, jatuh ke pematang sawah. Penabuh terbang kencer terkejut, serentak memburu Kuri dan yang lain mencoba mengejar ebeg palsu yang malah lari ke kerumunan orang, mencari perlindungan di antara kawan-kawannya yang ternyata sudah bersiap.

Senyap sejenak. Musik berhenti, penonton wanita menjerit, berlarian membubarkan diri. Sang Pengeran Timur Tengah memacu kudanya mejauhi arena sambil menangis. Aul melepas topeng, ikut berlari menyusul Pangeran. Kuri dalam perjalanan ke puskesmas.

Jelas kini terlihat di jalan. Arena yang dibatasi suasana psikologis musuh atau kawan. Gerombolan massa pemuda dari dua desa sudah berhadapan, menunggu aba-aba dari komandan masing-masing, siap berperang! Beberapa pemuda telah memamerkan tattonya yang bergambar kalajengking atau tokek di lengan masing-masing. Psywar segera dimulai. Kata-kata ejekan, hinaan, celaan, memanas-manaskan udara yang sebentar lagi meledak di jalan ini. Himbauan dari para orang tua yang tersisa tidak lagi terdengar seakan hanya para petarung, dan tentu saja iblis, yang berkuasa.

Aku? terjebak di parit, berlindung dibawah semak sambil cemas menanti apa yang akan terjadi. Di tanganku ku genggam sebuah batu, entah apakah aku berani menggunakannya pada saatnya nanti. Dalam hatiku menyesal mengapa aku takut dibilang pengecut, mengapa aku harus takut malu dengan adikku, kalau ternyata harus menghadapi gerombolan massa yang sudah tidak sopan ini. Aku mengintip dari celah semak, ingin menangis. Rasa taku mencegah segala suara, hanya tercekat di tenggorokan. Ku rasakan celanaku basah, tapi bukan oleh air parit karena terasa hangat. Kelelakianku mengejek, " ha..ha..ha...Bunka, hati-hati nanti ketahuan musuhmu".

Aku tidak tahu bagaimana untuk keluar dari situasi ini. Mau lari, lari ke mana? rasa takutku tidak menguntungkan untuk sekedar berlari pun.

Hari semakin sore tetapi belum ada tanda-tanda kapan serangan akan dimulai. Tetapi sebuah batu tiba-tiba meluncur ke pihak Kirno dan segera berbalas dengan serbuan batu yang lain ke arah yang berlawanan. Beberapa orang sudah maju dan berhadapan ke tengah arena. Sepertinya mereka duah mengenali musuhnya masing-masing, atau lebih tepatnya mengincar.

Dan perkelahianpun dimulai. Baku hantam, adu jotos, baku tendang, sampai piting-pitingan ala gulat jepang. Beruntunglah, sebelum situasi jadi semakin memburuk seorang polisi desa yang disegani karena kesaktiannya datang dan melerai. Mudah saja caraya. "Nih, lawan aku. Ayo siapa saja. Satu-satu, atau semuanya sekalian. Ayo Maju". Sepi. Tidak ada jawaban. Batu-batu sudah terjatuh dari tangan. Semua orang tahu Suhar, Pak Polisi Desa itu, bukan sembarang polisi. Meskipun tidak membawa pistol atau peluit, tetapi wibawa karena kesaktiannya sudah menjadi legenda hidup.

Ia mewarisi ilmu dari Bapaknya yang meninggal diculik gerombolan pada tahun 1965an. Konon, untuk membunuh bapaknya itu diperlukan sejumlah syarat mengerikan. Dan hanya orang-orang kejam bengis yang sanggup melakukannya. Karena meskipun kepala sudah terpisah dari badan, asal tidak terpisahkan oleh sungai, maka akan menyatu kembali. Maka dia konon dihabisi di luar desa, di seberang sungai, di kaki gunung, dengan sebuah prosesi pembunuhan yang tak terlukiskan kekejamannya dengan kata-kata.

Masih sepi. Tidak ada yang bergerak. Sampai Suhar berteriak lantang, " Bubarrr....!" , dan semua undur satu-satu dengan wajah tidak jelas ekspresinya. Tinggal Suhar sendirian di tengan arena, dan Aku yang sudah kesemutan berjongkok di parit.

Debaran di dadaku masih kencang. Karena sosok ini juga tidak kalah menakutkannya. Dia tidak suka dengan anak-anak!

teks : KH

foto: Zen's Collection/istimewa


 

+/-
Tinggalkan Komentar
Nama:
Email:
 
Situs:
Judul:
Kode UBB:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Masukkan kode Anti-Spam.
+/- Tanggapan
Tambahkan Cari LIhat Semua
bapakethufail  - kuda lumping     |118.136.48.123 |2008-12-08 00:05:09
sedikit tertarik dengan kuda lumpingnya kang...
Seterusnya lagu itu bercerita bahwa yang naik ‘kuda bohong’ itu
orangnya kesurupan. Bisa makan rumput, bisa makan padi, bahkan bisa
makan kaca. Sehingga kalau menonton tidak boleh dari dekat karena
akibatnya bisa berbahaya.

…Aduhai ngeri sekali…


saya tidak membayangkan kalau kuda itu adalah negeri ini dan
penunggangnya adalah penguasa yang ada...
hmmm kabeh di emplok (makan)..
aspal, hutan, laut, gunung, batu bara, BUMN, dokumen rahasia, senjata,
kapal....
memang kang memang... ngeri
sangat ngeri sekali
Admin  - re: kuda lumping   |202.138.243.34 |2009-01-27 15:27:22
[quote=bapakethufail]sedikit tertarik dengan kuda lumpingnya
kang...

...

Wah...Panjenengan terlalu to the point!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
Awal Cerita nDeso Ebeeggg....!!!

wisata

Kemisan

Oalah...Indonesiaku
Menyeruak secara tiba-tiba di tengah gegap gempita kampanye capres-cawapres, dua wanita Indonesia ini memaksa perhatian kita masing-masing dengan peristiwanya yang boleh dibilang klasik namun ternyata masih menyisakan pertanyaan yang belum tuntas jawabnya.
Pertama adalah kasus Manohara, perempuan jelita yang memiliki kisah bak dongeng sebelum tidur ini begitu gencar diliput media (infotainment) akibat antiklimaks jalan cerita yang dialaminya. Entah mengapa kasus ini menyita begitu banyak perhatian media massa di saat ribuan perempuan Indonesia di negeri jiran itu yang, bahkan, mengalami nasib lebih buruk. Beruntungnya Manohara, setidaknya, Ia bisa kembali ke pangkuan keluarganya dengan selamat. Beruntungnya pula ia karena selain liputan media, ia juga 'didukung oleh negara' . Ia juga memiliki keluarga yang mampu menjadikan kasus tersebut menjadi penting dan layak untuk dibela.
Kita tenta mafhum dengan banyaknya kasus serupa yang menimpa TKI (wanita) kita di luar negeri. Tidak jarang mereka hanya kembali jasadnya saja yang sudah kaku terbujur, banyak lainnya yang masih tersekap ,disiksa, diperkosa, dan tidak memiliki seorang pun yang peduli apalagi membelanya. Tidak terdengar gegap gempita liputan media ataupun limpahan simpati dari khalayak umum. Bahkan negara pun sering terlihat serba gamang. Inilah potret yang masih sering kita saksikan sampai dengan sekarang ini. TKW kita sering pulang dengan luka disekujur badan dan depresi tanpa siapa peduli, Manohara yang cantik pulang dan segudang skenario sinetron sudah menunggu. Wakakak..kakak...kak...
Kedua, tentu saja, adalah kasus yang menimpa ibu rumah tangga beranak balita 2 orang, Prita. Kasus Prita (VS RS OMNI) mendadak menjadi pusat perhatian orang tidak saja para pelahap gossip. Bahkan sampai Presiden dan Capres-Cawapres ikut cawe-cawe menunjukkan simpatinya. Para pejabat terkait pun turut serta dibuat sibuk. Kasus ini sepertinya sepele. Hanya masalah surat elektronik mengenai ketidakpuasan seorang pasien sakit yang disampaikan kepada kalangan dekat pasien. Namun sontak berubah menjadi kasus penting ketika aparat penegak hukum dengan gagah berani menerapkan pasal-pasal tindak pidana serius dengan ancaman hukuman labih dari 5 tahun. Logika hukum mengatakan dengan ancaman hukuman seperti itu maka tersangka harus ditahan. Maka Prita pun menjalani kehidupannya di balik jeruji ruang tahanan, terpisah dari suami, dan yang menyedihkan, terpisah dari dua buah hatinya yang masih mungil.
Publik sontak terkejut dan berekaksi keras. Ribuan pendukung cause di situs jejaring Face Book, komentar para ahli hukum, pakar HAM, dan masyarakat luas, senada mempertanyakan langkah penahanan Prita. Hanya karena berkirim surel mengenai curahan ketidakpuasannya atas pelayanan RS. Orang mencibir langkah RSO yang seperti membunuh nyamuk dengan senapan mesin. Orang juga mencibir langkah penegak hukum yang menerapkan pasal-pasal tersebut yang menyebabkan Prita ditahan.
Publik jelas menyaksikan ketidakadilan yang amat telanjang di sini. Lebih dari itu, publik kembali menyadari bahwa kebebasan berekspresi mengeluarkan pendapat yang merupakan HAM (diam-diam) masih ada yang tidak sepakat, masih menghadapi ancaman serius, justru di era reformasi yang penuh euforia kebebasan!
Bau busuk di belakang kasus ini pun mulai dicurigai berbagai kalangan. Siapa yang bermain kekuasaan sehingga menyeret persoalan yang sederhana ini menjadi terlihat berat dan serius. Ada apa di balik penerapan Undang-undang ITE dalam kasus itu?
Sisi baiknya, dua berita itu sungguh telah membangunkan kita dari mimpi-mimpi indah dan janji-janji kosong para juru kampanye capres-cawapres. Selamat menikmati...
 


Kampanye Hijau


Diedit dari Joomla! Designed by: Free Joomla 1.5 Template, domain instructions. Valid XHTML dan CSS.