Komentar Masuk
| Hak Azasi Anda, Dicabut! |
| Cerita | ||||||||||||||||||||||||||||||||
| Ditulis Oleh | ||||||||||||||||||||||||||||||||
| Kamis, 02 April 2009 07:26 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Bukan main, batinku ketika bersama segerombolan mahasiswa baru yang lain berjubel memasuki gerbang kampus. Ini hari pertama sekolah dengan predikat mahasiswa. Kawanku satu seklolah malah dengan berapi-api mengatakan : Kita ini sekarang jadi mahasiswa. Agent of change. Tahukan kau apa yang dimaksud dengan agent of change itu? Penggerak perubahan, penggerak revolusi. Tahukah kau siapa yang berdri paling depan di muka moncong meriam pemerintah komunis Cina? tahukan kau siapa yang berdiri paling depan menuntuk Roh Tae Woo mundur? dan tahukan kau siapa Soekarno ketika berjuang menyatukan Republik Indonesia? Syahrir? Bung Hatta? Dan kami yang memaklumi kegembiraanya serentak menjawab dengan lantang : MAHASISWA!, semoga dia puas. Buktinya dia kemudian menurunkan nada bicaranya dan cengar-cengir kaya kuda sumbawa kegatelan. Jelas tertulis di sebuah spanduk yang terbentang, ucapan (sanjungan lebih tepatnya ): SELAMAT DATANG PUTRA-PUTRI TERBAIK BANGSA Ttd Senat Mahasiswa Tiba-tiba ada kebanggaan membuncah memenuhi dada. Tidak main-main, konon sampai bisa berhasil diterima sebagai mahasiswa di sini, masing-masing dari kami telah mengalahkan 40 kandidat lain. Itu sama dengan jumlah siswa SMA satu kelas. Itu berarti juga kami layak disebut sebagai yang terbaik di kelas. Maka klaim Senat Mahasiswa itu memang tidak asal-asalan. Namun pada saat yang sama, di sisi ruang hati yang lain ada suara menyanggah. Ah, kalau tidak karena gratis, kalau tidak karena ada jaminan pekerjaan, kalau tidak karena prestis, dst..dst...mungkin kami tidak di sini. Tapi tak apalah, klaim apa saja yang bisa membusungkan dada ini. Aku hanya perlu kepastian yang kelak kau berikan : Gaji...he..he..he. Tetapi rasa bangga itu rupanya harus disimpan dulu baik-baik sebab sebuah bentakan nyaring menghardik kami agar bergegas memasuki pelataran kampus, dengan jalan berjongkok! Tak urung, rasa sebal dan kesal mengiringi langkah. Tidakkah kalian tahu, wahai para senior. Di tas karung kami tersedia beracam-macam perlengkapan. Di ke dua tangan kami masih harus membawa peralatan tulis, dan aksesoris macam-macam. Dan Kami belum tidur semalaman gara-gara harus mencatat harga sayur mayur dan merangkum isi berita RRI pukul 00.00 dini hari. Maka dengan deru nafas yang terbatas dan kantuk yang masih tertumpuk, kami 'ngesot' ke halaman upacara seperti bekicot, terus berbaris sambil meringis, mengikuti upacara yang penuh makna...bla...bla...bla. Dan ternyata upacara pagi itu hanya sebuah permulaan, fait accomply tepatnya. Karena tanpa persetujuan kami, Ketua Senat dengan semena-mena menyatakan bahwa mulai hari itu : HAK AZAZI KALIAN SEBAGAI MANUSIA TELAH DICABUT! Mengingat jerih payah kami dalam menyingkirkan 39 kompetitor, ditambah harapan besar dari keluarga di kampung halaman, ditambah aneka fasilitas yang akan kami dapatkan, ditambah cerita mengerikan menjadi penganggur selepas sekolah, kami sepakat untuk : tidak patheken, ambil saja sesukamu! Seminggu, seminggu saja ambillah semua yang bisa kau. Perlakukan aku sesukamu, jungkirkan aku, push up kan aku, beri perintah yang aneh-aneh, asal jangan kau suruh aku mengecat ulang Monas dengan warna purple agar sesuai dengan kenyataan kemakmuran yang masih di awang-awang. Lagian Pak Harto pasti marah nanti karena kuning adalah perlambang kemakmuran, dan terutama perlambang Golkar sang penguasa waktu itu. Jadi, seminggu ini kami adalah kambing-kambing congek yang tidak tahu dan tidak bisa apapun kecuali mematuhi perintahmu. Dan kami tidak keberatan. Hasilnya? Ah, sejak dulu ritual perploncoan, atau apapun namanya, tidak pernah berpretensi untuk menyiapkan mental menghadapi sistem pembelajaran perguruan tinggi. Ia tetap menjadi ajang iseng-iseng berhadiah. Kalaupun ada, mungkin sedikit jalinan pertemanan yang rapuh sebab kredit SKS yang harus ditempuh sudah cukup membuat orang menjadi sedikit autis. Ya, apa boleh buat. Tradisi mengatakan demikian. Di sini semua sudah disediakan, selain kebutuhan hidup pribadi tentunya. Jumlah materi yang harus dilahap sudah diputuskan, batas nilai yang diwajibkan untuk lulus sudah ditetapkan, pekerjaan usai lulus kuliah sudah disediakan, uang saku selama kuliah diberikan setiap bulan. Pokoknya kami tinggal belajar dan belajar. Ingat kata orang tua, rajin belajar pangkal pandai. Ingat kata temanku, si kuda sumbawa, agent of change, ingat pesan kakak kelas, jangan anti pemerintah, anti ABRI, Anti Golkar, apalagi berkelahi, atau kau akan di Drop Out! dan pulang kampung membawa malu spanjang hayat dikandung badan. Sekali malu tetap malu. ( this is part one)
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||||||||||||||||||||||||||||
wisata
Kemisan
| Oalah...Indonesiaku |
Menyeruak secara tiba-tiba di tengah gegap gempita kampanye capres-cawapres, dua wanita Indonesia ini memaksa perhatian kita masing-masing dengan peristiwanya yang boleh dibilang klasik namun ternyata masih menyisakan pertanyaan yang belum tuntas jawabnya. Pertama adalah kasus Manohara, perempuan jelita yang memiliki kisah bak dongeng sebelum tidur ini begitu gencar diliput media (infotainment) akibat antiklimaks jalan cerita yang dialaminya. Entah mengapa kasus ini menyita begitu banyak perhatian media massa di saat ribuan perempuan Indonesia di negeri jiran itu yang, bahkan, mengalami nasib lebih buruk. Beruntungnya Manohara, setidaknya, Ia bisa kembali ke pangkuan keluarganya dengan selamat. Beruntungnya pula ia karena selain liputan media, ia juga 'didukung oleh negara' . Ia juga memiliki keluarga yang mampu menjadikan kasus tersebut menjadi penting dan layak untuk dibela. Kita tenta mafhum dengan banyaknya kasus serupa yang menimpa TKI (wanita) kita di luar negeri. Tidak jarang mereka hanya kembali jasadnya saja yang sudah kaku terbujur, banyak lainnya yang masih tersekap ,disiksa, diperkosa, dan tidak memiliki seorang pun yang peduli apalagi membelanya. Tidak terdengar gegap gempita liputan media ataupun limpahan simpati dari khalayak umum. Bahkan negara pun sering terlihat serba gamang. Inilah potret yang masih sering kita saksikan sampai dengan sekarang ini. TKW kita sering pulang dengan luka disekujur badan dan depresi tanpa siapa peduli, Manohara yang cantik pulang dan segudang skenario sinetron sudah menunggu. Wakakak..kakak...kak... Kedua, tentu saja, adalah kasus yang menimpa ibu rumah tangga beranak balita 2 orang, Prita. Kasus Prita (VS RS OMNI) mendadak menjadi pusat perhatian orang tidak saja para pelahap gossip. Bahkan sampai Presiden dan Capres-Cawapres ikut cawe-cawe menunjukkan simpatinya. Para pejabat terkait pun turut serta dibuat sibuk. Kasus ini sepertinya sepele. Hanya masalah surat elektronik mengenai ketidakpuasan seorang pasien sakit yang disampaikan kepada kalangan dekat pasien. Namun sontak berubah menjadi kasus penting ketika aparat penegak hukum dengan gagah berani menerapkan pasal-pasal tindak pidana serius dengan ancaman hukuman labih dari 5 tahun. Logika hukum mengatakan dengan ancaman hukuman seperti itu maka tersangka harus ditahan. Maka Prita pun menjalani kehidupannya di balik jeruji ruang tahanan, terpisah dari suami, dan yang menyedihkan, terpisah dari dua buah hatinya yang masih mungil. Publik sontak terkejut dan berekaksi keras. Ribuan pendukung cause di situs jejaring Face Book, komentar para ahli hukum, pakar HAM, dan masyarakat luas, senada mempertanyakan langkah penahanan Prita. Hanya karena berkirim surel mengenai curahan ketidakpuasannya atas pelayanan RS. Orang mencibir langkah RSO yang seperti membunuh nyamuk dengan senapan mesin. Orang juga mencibir langkah penegak hukum yang menerapkan pasal-pasal tersebut yang menyebabkan Prita ditahan. Publik jelas menyaksikan ketidakadilan yang amat telanjang di sini. Lebih dari itu, publik kembali menyadari bahwa kebebasan berekspresi mengeluarkan pendapat yang merupakan HAM (diam-diam) masih ada yang tidak sepakat, masih menghadapi ancaman serius, justru di era reformasi yang penuh euforia kebebasan! Bau busuk di belakang kasus ini pun mulai dicurigai berbagai kalangan. Siapa yang bermain kekuasaan sehingga menyeret persoalan yang sederhana ini menjadi terlihat berat dan serius. Ada apa di balik penerapan Undang-undang ITE dalam kasus itu? Sisi baiknya, dua berita itu sungguh telah membangunkan kita dari mimpi-mimpi indah dan janji-janji kosong para juru kampanye capres-cawapres. Selamat menikmati... |




Sukses untukmu kawannnn.....blog yan...
weh, ini cerita klasik siapa n kapan...
weh, ini cerita klasik siapa n kapan ...
bagus juga isi bukunya. Ada gak ya di...
Lhaaaaah iya kie... cerita-cerita kay...