Komentar Masuk
| Jengkol 74 |
| Ditulis Oleh | ||||||||
| Jum'at, 20 Maret 2009 14:17 | ||||||||
|
Pukul 04.00 WIB dini hari, Aku terbangun dari tidur yang lelah sepanjang perjalanan. Ku rasakan pegal dan kejang di otot-otot kaki dan punggungku. Aku melirik ke luar jendela, rupanya bus yang ku tumpangi sedari sembilan jam yang lalu itu sudah berhenti di sebuah terminal. Para penumpang bergegas turun dalam balutan kantuk yang masih tersisa. Burr...hawa dingin subuh menerpa wajah dan riuh sisa kehidupan malam menyergap telingaku. Wuih, Jakarta! Pagi sekali aku mengetuk pintumu. Saat orang-orang di desaku masih asyik dalam dekapan selimut , Jakarta sudah ribut. Pedagang kopi panas, pengemis, pengamen,gelandangan,preman, dan semua manusia di terminal ini tampak tetap terjaga dengan wajah kusut temaram dibawah sinar lampu. Aku masih bingung, Jakarta yang ini kelihatan berbeda dengan yang pernah ku datangi beberapa tahun sebelumnya. Dulu, ketika aku ikut rombongan tetangga menghantar calon haji tidak ku jumpai terminal ini. Seingatku kami berhenti di sebuah pelataran yang luas di depan sebuah bangunan bertingkat. Asrama Haji Pondok Gede, begitu bunyi tulisan besar di dinding lantai palng atasnya. Sebuah tangga melingkar-lingkar seperti ular melilit batang pohon bercat hijau terlihat jelas di bagian depannya, menempel pada bagunan itu. Meskipun sama riuhnya, tetapi jelas berbeda. "Kamu harus turun di terminal Pulogadung kemudian naik bus kota nomor P4 jurusan Pulogadung-Blok M," kata temanku kemarin sebelum aku berangkat. Jadi inilah Jakarta, eh, maksudku Pulogadung. Remang cahaya lampu dan sisa angin malam membentuk nuansa berbeda dari yang ku rasakan di tempat asalku. Beberapa orang tidur tergeletak begitu saja di peron, beberapa pemuda bercanda dan tergelak, sebagian lagi asyik berkumpul sambil bernyanyi. Sementara para penumpang yang terus keluar dari bus-bus berbagai daerah asal, seperti laron yang lepas dari lubangnya memburu sumber cahaya. Atau seperti gerombolan lebah pencari madu yang berebut terbang menuju kuntum-kuntum bunga mekar. Aku sikapkan diri seolah bukan bagian dari mereka. Berjalan tegak dengan wajah kaku dan menyembunyikan kantuk di balik debu pagi, " di Jakarta, kau tidak boleh terlihat lemah", pesan Ayahku. Maka sambil menunggu bus kota, ku pesan segelas kopi panas dan menikmatinya sambil merokok di pelataran terminal. Berbincang sekedarnya dengan penjual kopi yang tampak sekali berusaha menyembunyikan identitas asalnya namun selalu gagal karena logat daerahnya yang sama kental dengan kopinya. "Tenang aja Bos, aku bayar sesuai harga meskipun kita orang satu daerah", kataku meyakinkan.
"Bloem, Bloem, Bloem!", nyaring suara kondektur memecah penantian. Sebuah Bus dengan tulisan P4 di kaca depan lewat dan melambat persis di depanku. Ah, pasti yang dimaksud tadi Blok M fikirku. Aku melompat masuk dan segera menghempaskan pantat di kursi yang kosong. Bersiap menunggu hal baru yang belum pernah ku temui di tempat asalku. Tiba-tiba aku teringat Monas dan Tugu Selamat Datang. Yah, di sebelah mana gerangan ke dua maskot Jakarta yang paling ingin aku lihat itu? Aku berharap mudah-mudahan bus yang akan membawaku ke Blok M ini nanti melewatinya. Kalau tidak Monas ya Tugu Selamat Datang saja juga boleh. Dan bukankah sesuai dengan namanya "Selamat Datang" maka ia harus berada di depan pintu masuknya? menyambut para tamu? menyambut aku... (Kelak aku tahu kalau pendatang yang tinggal di pusat uang saja yang disambut oleh si patung itu, huh! ngiri!) Tetapi rupanya jalan yang dilalui hanya menawarkan gedung-gedung temaram yang masih sunyi, tidak ada tugu-tugu atau patung-patung yang menyambut. Hingga mata lelah mencari dan justru kantuk yang hinggap kembali. Aku tertidur dan baru ketika dibangunkan kondektur bus aku tersadar kalau sudah sampai Blok M. Dari sini aku harus melanjutkan lagi perjalanan dengan dua jenis angkutan yang berbeda untuk sampai ke tujuan. Kampus STAN-Prodip III Keuangan Jurang Mangu. Besok, aku akan resmi berstatus sebagai Mahasiswa! Hebat bukan?
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
wisata
Kemisan
| Oalah...Indonesiaku |
Menyeruak secara tiba-tiba di tengah gegap gempita kampanye capres-cawapres, dua wanita Indonesia ini memaksa perhatian kita masing-masing dengan peristiwanya yang boleh dibilang klasik namun ternyata masih menyisakan pertanyaan yang belum tuntas jawabnya. Pertama adalah kasus Manohara, perempuan jelita yang memiliki kisah bak dongeng sebelum tidur ini begitu gencar diliput media (infotainment) akibat antiklimaks jalan cerita yang dialaminya. Entah mengapa kasus ini menyita begitu banyak perhatian media massa di saat ribuan perempuan Indonesia di negeri jiran itu yang, bahkan, mengalami nasib lebih buruk. Beruntungnya Manohara, setidaknya, Ia bisa kembali ke pangkuan keluarganya dengan selamat. Beruntungnya pula ia karena selain liputan media, ia juga 'didukung oleh negara' . Ia juga memiliki keluarga yang mampu menjadikan kasus tersebut menjadi penting dan layak untuk dibela. Kita tenta mafhum dengan banyaknya kasus serupa yang menimpa TKI (wanita) kita di luar negeri. Tidak jarang mereka hanya kembali jasadnya saja yang sudah kaku terbujur, banyak lainnya yang masih tersekap ,disiksa, diperkosa, dan tidak memiliki seorang pun yang peduli apalagi membelanya. Tidak terdengar gegap gempita liputan media ataupun limpahan simpati dari khalayak umum. Bahkan negara pun sering terlihat serba gamang. Inilah potret yang masih sering kita saksikan sampai dengan sekarang ini. TKW kita sering pulang dengan luka disekujur badan dan depresi tanpa siapa peduli, Manohara yang cantik pulang dan segudang skenario sinetron sudah menunggu. Wakakak..kakak...kak... Kedua, tentu saja, adalah kasus yang menimpa ibu rumah tangga beranak balita 2 orang, Prita. Kasus Prita (VS RS OMNI) mendadak menjadi pusat perhatian orang tidak saja para pelahap gossip. Bahkan sampai Presiden dan Capres-Cawapres ikut cawe-cawe menunjukkan simpatinya. Para pejabat terkait pun turut serta dibuat sibuk. Kasus ini sepertinya sepele. Hanya masalah surat elektronik mengenai ketidakpuasan seorang pasien sakit yang disampaikan kepada kalangan dekat pasien. Namun sontak berubah menjadi kasus penting ketika aparat penegak hukum dengan gagah berani menerapkan pasal-pasal tindak pidana serius dengan ancaman hukuman labih dari 5 tahun. Logika hukum mengatakan dengan ancaman hukuman seperti itu maka tersangka harus ditahan. Maka Prita pun menjalani kehidupannya di balik jeruji ruang tahanan, terpisah dari suami, dan yang menyedihkan, terpisah dari dua buah hatinya yang masih mungil. Publik sontak terkejut dan berekaksi keras. Ribuan pendukung cause di situs jejaring Face Book, komentar para ahli hukum, pakar HAM, dan masyarakat luas, senada mempertanyakan langkah penahanan Prita. Hanya karena berkirim surel mengenai curahan ketidakpuasannya atas pelayanan RS. Orang mencibir langkah RSO yang seperti membunuh nyamuk dengan senapan mesin. Orang juga mencibir langkah penegak hukum yang menerapkan pasal-pasal tersebut yang menyebabkan Prita ditahan. Publik jelas menyaksikan ketidakadilan yang amat telanjang di sini. Lebih dari itu, publik kembali menyadari bahwa kebebasan berekspresi mengeluarkan pendapat yang merupakan HAM (diam-diam) masih ada yang tidak sepakat, masih menghadapi ancaman serius, justru di era reformasi yang penuh euforia kebebasan! Bau busuk di belakang kasus ini pun mulai dicurigai berbagai kalangan. Siapa yang bermain kekuasaan sehingga menyeret persoalan yang sederhana ini menjadi terlihat berat dan serius. Ada apa di balik penerapan Undang-undang ITE dalam kasus itu? Sisi baiknya, dua berita itu sungguh telah membangunkan kita dari mimpi-mimpi indah dan janji-janji kosong para juru kampanye capres-cawapres. Selamat menikmati... |




Sukses untukmu kawannnn.....blog yan...
weh, ini cerita klasik siapa n kapan...
weh, ini cerita klasik siapa n kapan ...
bagus juga isi bukunya. Ada gak ya di...
Lhaaaaah iya kie... cerita-cerita kay...