Wednesday 08th of September 2010

news blog logo
news menu leftnews menu right

Cerita dan Resensi

Komentar Masuk

Bunka
Cerita
Ditulis Oleh   
Kamis, 27 November 2008 00:00

Industrialisasi telah merasuk ke desaku, jauh sebelum aku mengenal bangku sekolah dan berkenalan dengan James Watt yang menemukan ketel uap, ketika sebuah pabrik penggilingan padi dibangun. Meskipun skalanya relatif kecil tetapi tetap juga menghadirkan kekaguman dan keheranan penduduk.

Deru suara mesinnya yang dimulai setiap pukul 8 pagi dan berakhir pukul 5 sore, seterusnya menjadi bagian dari 'tetenger' waktu selain bunyi beduk dan suara azan dari satu-satunya masjid di desa (Kelak, suara mesin itu pun menghilangkan bunyi 'duk..duk..' alu bertemu dengan lesung dalam prosesi penumbukkan padi yang ku gemari).

Aroma khas asap yang mengepul dari cerobong besinya, yang berwarna hitam kecoklatan, menjadi bau baru lingkungan sekitar. Juga menjadi aroma lain selain bau tanah basah dan kotoran ternak yang tercecer sepanjang jalan. Lebih dari semuanya, diam-diam, rutinitas 'pabrik' sehari-hari menjadi pertanda bahwa geliat pertanian di desaku juga bergerak, atau setidaknya, masih ada.

Ya, sebagai desa yang dikelilingi sawah dan dipagari gunung, maka kehadiran rice mill  menjadikan pekerjaan lebih mudah. Kami tidak perlu repot menumpuk hasil panen di rumah. Cukup dengan membayar sejumlah uang, hasil panen kami langsung bisa ditunggu menjadi beras. Tenaga bisa dihemat, hasil lebih sedikit yang terbuang karena hancur ditumbuk. Maka saat musin giling tiba, timbunan sekam berwarna keemasan pun menggunung di halaman belakang pabrik. Kami suka bermain-main di sana sebelum secara sembunyi-sembunyi mengambil satu karung kecil sekam untuk dibawa pulang. Sekam adalah bahan bakar terbaik untuk membenamkan ubi jalar. Ubi jalar yang dibenam dalam sekam yang membara akan memiliki tingkat kematangan yang merata, dan tidak hangus. Aromanya yang harum dan rasanya yang manis adalah teman sendagurau keluarga di sore hari sambil menunggu hari gelap.

Pemilik pabrik adalah seorang warga keturunan, entah tionghoa atau korea (itu pun tidak jelas : korea komunis, utara, atau korea kapitalis, selatan). Dari penampakan fisiknya yang membedakan  kalau dia bukan orang pribumi, cuma matanya yang dalam dan selalu bernuansa merah. Rambut, hidung, tinggi, warna kulit, semua standar.

Dia selalu duduk di balik meja besar dengan tumpukan kertas-kertas kecil yang ditusuk sebilah jeruji besi runcing di depannya. Saat pagi hari, jumlah tumpukan kertas itu baru satu dua. Semakin sore akan semakin banyak sehingga menutupi seluruh batang besi. Itu tandanya semakin banyak uang masuk ke kantong celanannya yang kododoran. Di sisi mejanya yang lain selalu tersedia sebuah gelas besar berisi air berwarna coklat kekuning-kunigan, agak berbuih dipermukaannya. Ku pikir dia suka mengumpulkan air seninya ternyata bukan.

"Ssst..., itu bukan teh, Khamr", kata temanku suatu ketika.

"Khamr itu yang membuat perutnya buncit".

Saya hanya tahu dua hal mengenai perut buncit : Hamil, atau cacingan. Mungkin Khamr itu mengandung benih-benih cacing sehingga kalau diminum benih itu akan menetas di dalam perut. Hamil? jelas tidak mungkin sebab dia laki-laki.

Oh, ya, di depannya juga tersanding sebuah radio transistor merk Tjawang. Aku pernah melewati ruangannya. Dan dari kotak itulah pernah kudengar sayup lagu melayu yang dibawakan Ida Laela dan A Achmadi dari OM Awara, beradu berisik dengan suara mesin penggiling.

Bunka. Papan dari kayu berukiran sederhana di depannya itu dibaca demikian kata ibuku. Nama yang aneh (kalau itu sebuah nama). Seaneh orangnya. Dingin dan selalu terlihat serius di atas kursinya, seolah-olah urat senyum di wajahnya sudah putus ikut tergiling bersama gabah. Ia lah orang pertama yang ku lihat tidak bahagia walaupun di kantongnya ada banyak uang. Ia tipe Tuan-tuan dalam cerita sejarah penindasan kolonial belanda. Kalau ngomong selalu dengan berteriak meskipun mesin pabrik sudah berhenti. Kalau berdiri berkacak pinggang karena perutnya melorot. Dan kalau berjalan... "tok..tok..tok, Aku seorang juragan!".

Entah, angin dari mana yang membawanya ke tengah-tengah keheningan desa dan mengais rejeki dari upah warga desa menggilingkan padi. Entah pula siapa keluarganya. Barangkali, cuma mesin dan peralatan pabriknya saja. Dan kami, para petani, kuli pabrik, pedagang cendol, anak-anak yang bermain di gunung sekamnya (dan mencurinya), serta segenap kecoa, tikus, kluwing, kelelawar, adalah satu strata, The Other dalam struktur dunia psikologisnya. Anda tahu betapa menyebalkan dan membahayakannya posisi 'orang lain' dalam konteks dunia yang dibangunnya tersebut? Coba tanyakan pada sartre.

Itulah, meskipun yang terjadi sebenarnya simbiosis mutualisme, dia selalu merasa sebagai pihak yang paling dibutuhkan. Dia memonopoli dunia dalam pabriknya. Bahkan sura mesin pun kalah keras kalau dia marah dan berteriak. Dan yang paling hebat, dia  bisa menyuruh gerombolan tikus di gudang pabrik untuk membolongi karung-karung tempat gabah kami dititipkan sebelum digiling. Juragan, bukan main!

Ini yang membuatku keki alang bukan kepalang : perutnya yang buncit sementara perawakannya yang kurus itu mirip sekali denganku! (bedanya tentu soal isi). Maka, aku dengan bersungut harus menerima ejekan dari teman-teman permainanku ketika mereka mamanggilku : Bunka!  

Aku memaki cacing-cacing dalam tubuhku. Menyesalkan mengapa mereka memilih diam dalam perutku yang jelas tidak pernah terisi makanan enak, selain ubi bakar tentunya. Cacing bodoh! makiku.

+/-
Tinggalkan Komentar
Nama:
Email:
 
Situs:
Judul:
Kode UBB:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Masukkan kode Anti-Spam.
+/- Tanggapan
Tambahkan Cari LIhat Semua
yoga  - mas bunka     |125.161.79.187 |2008-12-10 16:19:06
kang hasan web-na cakep,ajarin bikin dunk
KH   |202.138.243.34 |2008-12-11 09:07:09
:) ...thnks. Bisa dipertimbangkan...
KH  - Hmmm...     |202.138.243.34 |2008-12-05 15:59:16
:s Maksudnya apa neh?

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

wisata

Kemisan

Oalah...Indonesiaku
Menyeruak secara tiba-tiba di tengah gegap gempita kampanye capres-cawapres, dua wanita Indonesia ini memaksa perhatian kita masing-masing dengan peristiwanya yang boleh dibilang klasik namun ternyata masih menyisakan pertanyaan yang belum tuntas jawabnya.
Pertama adalah kasus Manohara, perempuan jelita yang memiliki kisah bak dongeng sebelum tidur ini begitu gencar diliput media (infotainment) akibat antiklimaks jalan cerita yang dialaminya. Entah mengapa kasus ini menyita begitu banyak perhatian media massa di saat ribuan perempuan Indonesia di negeri jiran itu yang, bahkan, mengalami nasib lebih buruk. Beruntungnya Manohara, setidaknya, Ia bisa kembali ke pangkuan keluarganya dengan selamat. Beruntungnya pula ia karena selain liputan media, ia juga 'didukung oleh negara' . Ia juga memiliki keluarga yang mampu menjadikan kasus tersebut menjadi penting dan layak untuk dibela.
Kita tenta mafhum dengan banyaknya kasus serupa yang menimpa TKI (wanita) kita di luar negeri. Tidak jarang mereka hanya kembali jasadnya saja yang sudah kaku terbujur, banyak lainnya yang masih tersekap ,disiksa, diperkosa, dan tidak memiliki seorang pun yang peduli apalagi membelanya. Tidak terdengar gegap gempita liputan media ataupun limpahan simpati dari khalayak umum. Bahkan negara pun sering terlihat serba gamang. Inilah potret yang masih sering kita saksikan sampai dengan sekarang ini. TKW kita sering pulang dengan luka disekujur badan dan depresi tanpa siapa peduli, Manohara yang cantik pulang dan segudang skenario sinetron sudah menunggu. Wakakak..kakak...kak...
Kedua, tentu saja, adalah kasus yang menimpa ibu rumah tangga beranak balita 2 orang, Prita. Kasus Prita (VS RS OMNI) mendadak menjadi pusat perhatian orang tidak saja para pelahap gossip. Bahkan sampai Presiden dan Capres-Cawapres ikut cawe-cawe menunjukkan simpatinya. Para pejabat terkait pun turut serta dibuat sibuk. Kasus ini sepertinya sepele. Hanya masalah surat elektronik mengenai ketidakpuasan seorang pasien sakit yang disampaikan kepada kalangan dekat pasien. Namun sontak berubah menjadi kasus penting ketika aparat penegak hukum dengan gagah berani menerapkan pasal-pasal tindak pidana serius dengan ancaman hukuman labih dari 5 tahun. Logika hukum mengatakan dengan ancaman hukuman seperti itu maka tersangka harus ditahan. Maka Prita pun menjalani kehidupannya di balik jeruji ruang tahanan, terpisah dari suami, dan yang menyedihkan, terpisah dari dua buah hatinya yang masih mungil.
Publik sontak terkejut dan berekaksi keras. Ribuan pendukung cause di situs jejaring Face Book, komentar para ahli hukum, pakar HAM, dan masyarakat luas, senada mempertanyakan langkah penahanan Prita. Hanya karena berkirim surel mengenai curahan ketidakpuasannya atas pelayanan RS. Orang mencibir langkah RSO yang seperti membunuh nyamuk dengan senapan mesin. Orang juga mencibir langkah penegak hukum yang menerapkan pasal-pasal tersebut yang menyebabkan Prita ditahan.
Publik jelas menyaksikan ketidakadilan yang amat telanjang di sini. Lebih dari itu, publik kembali menyadari bahwa kebebasan berekspresi mengeluarkan pendapat yang merupakan HAM (diam-diam) masih ada yang tidak sepakat, masih menghadapi ancaman serius, justru di era reformasi yang penuh euforia kebebasan!
Bau busuk di belakang kasus ini pun mulai dicurigai berbagai kalangan. Siapa yang bermain kekuasaan sehingga menyeret persoalan yang sederhana ini menjadi terlihat berat dan serius. Ada apa di balik penerapan Undang-undang ITE dalam kasus itu?
Sisi baiknya, dua berita itu sungguh telah membangunkan kita dari mimpi-mimpi indah dan janji-janji kosong para juru kampanye capres-cawapres. Selamat menikmati...
 


Kampanye Hijau


Diedit dari Joomla! Designed by: Free Joomla 1.5 Template, domain instructions. Valid XHTML dan CSS.