Wednesday 08th of September 2010

news blog logo
news menu leftnews menu right

Cerita dan Resensi

Komentar Masuk

Gantungkan Cita-citamu Pada Bintang Gemintang
Peringkat User: / 0
JelekBagus 
Ditulis Oleh   
Selasa, 23 Desember 2008 03:10

Ketika kelas 5 SD, saya ditanya Guru saya," mBul, apa cita-citamu?". Sejenak saya bingung mau manjawab bagaimana. Hendak menanyakan ulang apa yang dimaksud dengan cita-cita rasanya kok malu. Beberapa teman dengan lantang sudah menjawab." Saya ingin jadi Polisi Bu!" jawab Jono teman sebangku. Barangkali dia terilhami lagu Kopral Jono. Kopral Polisi yang berjambul, baik hati, dan disukai para wanita.

"Dokter! biar bisa menolong orang sakit (dan banyak duit, ini belum terpikirkan waktu itu)", kata Nur, cewek berambut ikal yang kemayu."ABRI! supaya bisa membela negara", sahut Amir berambut kuncung mirip tentara." Pedagang!" seru Slamet yang setiap hari membawa permen ke sekolah untuk dijual kepada kami. Beberapa teman lain dengan mantap menjawab sambil menirukan gaya khas profesi idamannya masing-masing.

Saya masih bingung. Tetapi demi mendengar jawaban teman-temanku saya segera mengerti maksud pertanyaan Bu Guru. Justru karena itu kebingunganku bertambah. Saya tidak mau dikira ikut-ikutan Jono, dan tidak mau bersaing dengan Nur yang sok centil, sekaligus  juga tidak mau jadi pedagang.

"Timbul....! apa cita-citamu?", ah, kalaulah hidup boleh memilih 'tidak' untuk saat itu, tentu aku memilih untuk tidak bercita-cita. Tetapi Bu Guru mengatakan bahwa kita harus menggantungkan cita-cita setinggi langit, pada bintang-bintang. Maka demi tidak merusak suasana kelas yang dilanda euforia itu saya menjawab, dengan ragu-ragu," saya ingin jadi banyak : petani, penyiar radio, pelaut, bintang film, bla..bla..bla...".

Saya sudah bersiap untuk ditertawakan. Jadi apa cita-citamu? (mungkin Ibu Guru dalam hatinya menggerutu dan inign tahu begitu). 

Dan siang itu kelas berakhir dengan gelak tawa riang. Kami pulang membawa cita-cita masing-masing ke rumah untuk digantungkan di langit malam lewat mimpi-mimpi kami. Kecuali aku yang butuh banyak bintang untuk menggantung sekian banyak cita-cita.

Tujuh tahun kemudian...

Langit desa gelap dan angin musim penghujan bertiup resah. Batang-batang bambu berderit seperti nyanyian horor. Sementara air hujan tercurah deras membasahi malam. Angin musim ketiga tak lelah-lelah mengungkit-ungkit paku perekat seng di atap rumah, bunyinya bising dan membuat takut. Beberapa bagian telah terangkat dan menjuntai ke tanah membuka pintu air hujan membasahi rumah. Alam selalu begitu setiap penghujung tahun. Di luar, warna malam hanya pekat dan rapat terpaku tetesan air dari langit.  Hanya gelap dan suara gaduh menyelubungi semesta.

Bintang gemintang lenyap tersapu kabut, tak lagi mau menampung cita-cita kecil kami. Satu demi satu mimpi-mimpi itu berguguran mengalir bersama tetes air menuju selokan, ke sungai, ke sawah, dan hilang ditelan bumi. Seiring bertambahnya beban hidup orang-orang tua kami, seorang calon dokter sudah terlebih dulu menikah selepas SMP. Seorang calon Polisi telanjur menjadi sopir angkutan desa. Dan seorang calon pedagang sudah terlebih dahulu merantau ke kota sebelum sempat membaca Philip Kottler dan belajar manajemen pemasaran. Bukan cita-cita kami yang salah, tetapi mungkin waktu yang belum berpihak. Sedangkan si calon petani, kini tengah dihinggapi kegamangan selepas SMA, terancam putus sekolah alias tidak dapat meneruskan ke jenjang perguruan tinggi karena alasan klasik, ketiadaan biaya.

Beruntunglah, karena Tuhan memang selalu menyediakan jalan untuk hamba yang berkeinginan, saya lolos ujian masuk sekolah kedinasan. Gembira bukan main perasaanku. Aku bisa meneruskan sekolah tanpa harus mengeluarkan biaya yang terlampau banyak, bahkan mendapatkan uang saku yang cukup lumayan. Dan setelah lulus, aku pasti bekerja dan digaji.

Aku berniat menabung dari gajiku dan kelak akan ku beli sawah demi meretas satu per satu mozaik hidupku yang pernah ku cita-citakan. Tetapi aku juga ingin kuliah jurnalistik agar bisa jadi penyiar radio, dan aku mendaftar di teknik kelautan karena ingin jadi pelaut. Beruntunglah, aku tidak jadi ndaftar IKJ. Karena untuk jadi bintang film rupanya kurang  diperlukan bekal ilmu kesenian yang cukup, jadi percuma kuliah di situ. Lagian, tampangku tidak ada cakep-cakepnya...

 

 

+/-
Tinggalkan Komentar
Nama:
Email:
 
Situs:
Judul:
Kode UBB:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Masukkan kode Anti-Spam.
+/- Tanggapan
Tambahkan Cari LIhat Semua
muhamadmuiz     |202.138.246.2 |2009-03-10 16:32:03
Lhaaaaah iya kie... cerita-cerita kaya kiye singtak luruh. mengakar pada
pedesaan asli...

***KH : Lha, sekedar mengingat masa lalu boleh dunk?

Trims atas kunjunganmu Bro....
lee     |61.94.124.51 |2009-02-08 09:29:38
Siapa yang salah?Salah siapa??keinginan menggebu, kemampuan dan kesempatan tak
berpihak...berbahagialah org yg terlaksana cita2..
KH : salah mereka yang tidak
memahami dan tunduk dalam kuasa hukum alam...dalam Sunatullah...

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
Awal Cerita nDeso Gantungkan Cita-citamu Pada Bintang Gemintang

wisata

Kemisan

Oalah...Indonesiaku
Menyeruak secara tiba-tiba di tengah gegap gempita kampanye capres-cawapres, dua wanita Indonesia ini memaksa perhatian kita masing-masing dengan peristiwanya yang boleh dibilang klasik namun ternyata masih menyisakan pertanyaan yang belum tuntas jawabnya.
Pertama adalah kasus Manohara, perempuan jelita yang memiliki kisah bak dongeng sebelum tidur ini begitu gencar diliput media (infotainment) akibat antiklimaks jalan cerita yang dialaminya. Entah mengapa kasus ini menyita begitu banyak perhatian media massa di saat ribuan perempuan Indonesia di negeri jiran itu yang, bahkan, mengalami nasib lebih buruk. Beruntungnya Manohara, setidaknya, Ia bisa kembali ke pangkuan keluarganya dengan selamat. Beruntungnya pula ia karena selain liputan media, ia juga 'didukung oleh negara' . Ia juga memiliki keluarga yang mampu menjadikan kasus tersebut menjadi penting dan layak untuk dibela.
Kita tenta mafhum dengan banyaknya kasus serupa yang menimpa TKI (wanita) kita di luar negeri. Tidak jarang mereka hanya kembali jasadnya saja yang sudah kaku terbujur, banyak lainnya yang masih tersekap ,disiksa, diperkosa, dan tidak memiliki seorang pun yang peduli apalagi membelanya. Tidak terdengar gegap gempita liputan media ataupun limpahan simpati dari khalayak umum. Bahkan negara pun sering terlihat serba gamang. Inilah potret yang masih sering kita saksikan sampai dengan sekarang ini. TKW kita sering pulang dengan luka disekujur badan dan depresi tanpa siapa peduli, Manohara yang cantik pulang dan segudang skenario sinetron sudah menunggu. Wakakak..kakak...kak...
Kedua, tentu saja, adalah kasus yang menimpa ibu rumah tangga beranak balita 2 orang, Prita. Kasus Prita (VS RS OMNI) mendadak menjadi pusat perhatian orang tidak saja para pelahap gossip. Bahkan sampai Presiden dan Capres-Cawapres ikut cawe-cawe menunjukkan simpatinya. Para pejabat terkait pun turut serta dibuat sibuk. Kasus ini sepertinya sepele. Hanya masalah surat elektronik mengenai ketidakpuasan seorang pasien sakit yang disampaikan kepada kalangan dekat pasien. Namun sontak berubah menjadi kasus penting ketika aparat penegak hukum dengan gagah berani menerapkan pasal-pasal tindak pidana serius dengan ancaman hukuman labih dari 5 tahun. Logika hukum mengatakan dengan ancaman hukuman seperti itu maka tersangka harus ditahan. Maka Prita pun menjalani kehidupannya di balik jeruji ruang tahanan, terpisah dari suami, dan yang menyedihkan, terpisah dari dua buah hatinya yang masih mungil.
Publik sontak terkejut dan berekaksi keras. Ribuan pendukung cause di situs jejaring Face Book, komentar para ahli hukum, pakar HAM, dan masyarakat luas, senada mempertanyakan langkah penahanan Prita. Hanya karena berkirim surel mengenai curahan ketidakpuasannya atas pelayanan RS. Orang mencibir langkah RSO yang seperti membunuh nyamuk dengan senapan mesin. Orang juga mencibir langkah penegak hukum yang menerapkan pasal-pasal tersebut yang menyebabkan Prita ditahan.
Publik jelas menyaksikan ketidakadilan yang amat telanjang di sini. Lebih dari itu, publik kembali menyadari bahwa kebebasan berekspresi mengeluarkan pendapat yang merupakan HAM (diam-diam) masih ada yang tidak sepakat, masih menghadapi ancaman serius, justru di era reformasi yang penuh euforia kebebasan!
Bau busuk di belakang kasus ini pun mulai dicurigai berbagai kalangan. Siapa yang bermain kekuasaan sehingga menyeret persoalan yang sederhana ini menjadi terlihat berat dan serius. Ada apa di balik penerapan Undang-undang ITE dalam kasus itu?
Sisi baiknya, dua berita itu sungguh telah membangunkan kita dari mimpi-mimpi indah dan janji-janji kosong para juru kampanye capres-cawapres. Selamat menikmati...
 


Kampanye Hijau


Diedit dari Joomla! Designed by: Free Joomla 1.5 Template, domain instructions. Valid XHTML dan CSS.