Wednesday 08th of September 2010

news blog logo
news menu leftnews menu right

Cerita dan Resensi

Komentar Masuk

Tuhan Tidak Tidur, (tapi) Manusia Terlelap 1
Ditulis Oleh KH   
Rabu, 17 Desember 2008 01:16

"Lik, harusnya sekarang sudah jadi juragan", kataku suatu ketika Lik datang ke tempatku dan mengeluhkan hal yang sama, berulang-ulang. Selalu dilanda persoalan keuangan, kekurangan uang untuk memenuhi kebutuhan. Akhir-akhir ini minyak tanah sulit di dapat. Kalaupun ada, harus mengambil ke agen yang jaraknya puliha kilometer. Itu pun masih harus eksrta hati-hati. Sebab bisa saja ia ditangkap petugas karena dianggap menyelundupkan BBM bersubsidi. Maka, sudah satu minggu ini ia tidak berjualan.

Tetapi Lik hanya diam tidak menjawab. Hanya desah resahnya yang melayang bersama hembusan asap kretek dari mulut dan hidungnya. Tampak jelas garis-garis kekalahan di raut mukanya yang beranjak menua. Kelelahan fisik dan psikis yang dideritanya karena selalu terpinggirkan dalam perebutan kue pembangunan makin meredupkan sorot matanya. Beban berat hidupnya telah secara perlahan menggerogoti badannya yang dulu tegap dan besar. Ah, Lik sekarang, ia tidak seperkasa dulu, ketika mengajakku ke kota ini.

"Bangun!", suara sesorang mengagetkanku dari tidur yang panas. Tangan Lik mengguncang-guncang pundakku seraya berdiri. Sementara hiruk pikuk orang dan bising mesin kendaraan membuatku tersadar.

"Sudah sampai, ambil tasmu cepat", kami tergesa turun dari Bus yang telah membawa kami selama hampir 5 jam, jauh dari sudut desa. Ke Kota membawa harapan, mempertaruhkan nasib, mengharap keberuntungan, mencoba meraih mimpi. Bus ini adalah mesin-mesin dimensi yang mengantarkan kami. Ia melontarkan kami dari ketiadaan, keserbakekurangan, kemiskinan, dan kesunyian menuju keberadaan, keserbaramaian, ketergesaan, dan kehirukpikukan kota. Dan meninggalkan kami begitu saja. Kali lain ia akan menjemput kami dalam dua kemungkinan : sebagai pecundang atau sebagai pemenang.

Ini adalah perjalananku yang pertama, meninggalkan kampung halaman. Hadiah kenaikan kelas yang menempatkanku pada posisi pertama dari 60 murid SD. Liburan ke Kota. Melihat lampu-lampu malam yang gemerlapan, melihat mobil-mobil aneka yang berseliweran, gedung-gedung tinggi, dan...kebun binatang! yang cuma bisa kami dengar dan lihat di buku IPS.

Tas kumal ku silangkan di pundak dan kami setengah melompat turun dari bus yang ternyata hanya mengurangi kecepatan lajunya. Rupanya kami berhenti di pinggir jalan, bukan di terminal. Setelah itu kami berjalan menyusuri gang sempit di pinggir sebuah parit, ah bukan, selokan orang bilang. Sebuah sungai kecil yang airnya malas mengalir, berat membawa tumpukan plastik dan buih putih di antara warnanya yang kelam hitam.

lagi ah..
 
Njanji_Soenji@km57.com
Ditulis Oleh KH   
Senin, 15 Desember 2008 06:27

Sign in, ketik nama pengguna dan masukkan kata sandi, sudah ku lakukan. Dan sekarang layar monitor sedang mengarahkan,  processing. Dalam hitungan detik, tergelar kemudian home page-ku pada sebuah situs penyedia jasa layanan surat elektronik. Welcome Dhien, begitu dia selalu menyapa ramah nick name-ku. You have 35 unread mails in your inbox. Sebel, sepagi ini aku harus berurusan dengan orang-orang iseng yang menawarkan penghasilan jutaan rupiah secara instan, atau sekedar mengajak bergabung dalam komunitasnya. Ah, apa memang mereka kurang pekerjaan atau sekedar berjudi. Berharap satu dari sekian juta alamat yang dituju akan ada yang menanggapi. Dan, selalu ada yang menanggapi. Sebab aku juga pernah mencobanya. Aku membalas email mereka, menyertakan data diri (sudah pasti palsu), dan nomor telepon seluler. Rupanya mereka masih keberatan juga untuk menanggung biaya roaming international mengetahui asal nomorku. Impas!

34 email di inbox sudah ku hapus. Sengaja ku tinggalkan satu karena yang satu ini memang aku harapkan. Ibarat yang lain adalah bebatuan sedangkan yang ini adalah mutiaranya, wow! Klik...

From: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Subject: none

CC:--

Dear Dhien, mengapa negara mau pusing mengatur soal pornografi ? dengan membuat Undang-undang baru? bukankah sudah cukup banyak undang-undang yang mengaturnya? Ada KUHP, ada RUU Perlindungan Anak, ada UU Penyiaran, kurang apa lagi. Mandul? ya, bukan dengan membuat uu baru, berdayakan yang ada, tegakkan.
Baca lagi ah...
 
Berapa Jarak Jepang-Berau?
Ditulis Oleh Hasan   
Kamis, 11 Desember 2008 09:52

Pagi masih berselimut kabut dingin di desaku yang berketinggian 1000 m dpl di lereng Gunung Slamet. Aku baru beranjak dari pembaringan ketika sebuah bunyi mengagetkanku. Sebuah panggilan, yang memberiku banyak cerita.

" Ku mencintaimu lebih dari apapun....." ponselku berdering. Dag dig dug jantungku berdegup kencang, gugup. Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba menguasai keadaan : deru dalam hatiku antara rasa takut dan ingin tahu. Nada panggil ini sudah ku set khusus untuk penggilan yang satu ini.

" Selamat pagi...", suara seseorang dari seberang sana, suara yang belakangan ini sering ku dengar dan sudah tiga hari ini ku tunggu. Pagi, ya memang hari  masih pagi. Baru jam 06.30 seperti kata jarum jam di tembok dinding kamarku. Bayangan pagi ini hendak jadi neraka atau surga tiba-tiba melintas-lintas di kepala, menakutkanku. Hanya satu kata yang ku nanti dan itu akan cukup menjelaskan semuanya.

terus...
 
Tulisan Lain...
« Prev1234 »

Hal 3 of 4
Awal

wisata

Kemisan

Oalah...Indonesiaku
Menyeruak secara tiba-tiba di tengah gegap gempita kampanye capres-cawapres, dua wanita Indonesia ini memaksa perhatian kita masing-masing dengan peristiwanya yang boleh dibilang klasik namun ternyata masih menyisakan pertanyaan yang belum tuntas jawabnya.
Pertama adalah kasus Manohara, perempuan jelita yang memiliki kisah bak dongeng sebelum tidur ini begitu gencar diliput media (infotainment) akibat antiklimaks jalan cerita yang dialaminya. Entah mengapa kasus ini menyita begitu banyak perhatian media massa di saat ribuan perempuan Indonesia di negeri jiran itu yang, bahkan, mengalami nasib lebih buruk. Beruntungnya Manohara, setidaknya, Ia bisa kembali ke pangkuan keluarganya dengan selamat. Beruntungnya pula ia karena selain liputan media, ia juga 'didukung oleh negara' . Ia juga memiliki keluarga yang mampu menjadikan kasus tersebut menjadi penting dan layak untuk dibela.
Kita tenta mafhum dengan banyaknya kasus serupa yang menimpa TKI (wanita) kita di luar negeri. Tidak jarang mereka hanya kembali jasadnya saja yang sudah kaku terbujur, banyak lainnya yang masih tersekap ,disiksa, diperkosa, dan tidak memiliki seorang pun yang peduli apalagi membelanya. Tidak terdengar gegap gempita liputan media ataupun limpahan simpati dari khalayak umum. Bahkan negara pun sering terlihat serba gamang. Inilah potret yang masih sering kita saksikan sampai dengan sekarang ini. TKW kita sering pulang dengan luka disekujur badan dan depresi tanpa siapa peduli, Manohara yang cantik pulang dan segudang skenario sinetron sudah menunggu. Wakakak..kakak...kak...
Kedua, tentu saja, adalah kasus yang menimpa ibu rumah tangga beranak balita 2 orang, Prita. Kasus Prita (VS RS OMNI) mendadak menjadi pusat perhatian orang tidak saja para pelahap gossip. Bahkan sampai Presiden dan Capres-Cawapres ikut cawe-cawe menunjukkan simpatinya. Para pejabat terkait pun turut serta dibuat sibuk. Kasus ini sepertinya sepele. Hanya masalah surat elektronik mengenai ketidakpuasan seorang pasien sakit yang disampaikan kepada kalangan dekat pasien. Namun sontak berubah menjadi kasus penting ketika aparat penegak hukum dengan gagah berani menerapkan pasal-pasal tindak pidana serius dengan ancaman hukuman labih dari 5 tahun. Logika hukum mengatakan dengan ancaman hukuman seperti itu maka tersangka harus ditahan. Maka Prita pun menjalani kehidupannya di balik jeruji ruang tahanan, terpisah dari suami, dan yang menyedihkan, terpisah dari dua buah hatinya yang masih mungil.
Publik sontak terkejut dan berekaksi keras. Ribuan pendukung cause di situs jejaring Face Book, komentar para ahli hukum, pakar HAM, dan masyarakat luas, senada mempertanyakan langkah penahanan Prita. Hanya karena berkirim surel mengenai curahan ketidakpuasannya atas pelayanan RS. Orang mencibir langkah RSO yang seperti membunuh nyamuk dengan senapan mesin. Orang juga mencibir langkah penegak hukum yang menerapkan pasal-pasal tersebut yang menyebabkan Prita ditahan.
Publik jelas menyaksikan ketidakadilan yang amat telanjang di sini. Lebih dari itu, publik kembali menyadari bahwa kebebasan berekspresi mengeluarkan pendapat yang merupakan HAM (diam-diam) masih ada yang tidak sepakat, masih menghadapi ancaman serius, justru di era reformasi yang penuh euforia kebebasan!
Bau busuk di belakang kasus ini pun mulai dicurigai berbagai kalangan. Siapa yang bermain kekuasaan sehingga menyeret persoalan yang sederhana ini menjadi terlihat berat dan serius. Ada apa di balik penerapan Undang-undang ITE dalam kasus itu?
Sisi baiknya, dua berita itu sungguh telah membangunkan kita dari mimpi-mimpi indah dan janji-janji kosong para juru kampanye capres-cawapres. Selamat menikmati...
 


Kampanye Hijau


Diedit dari Joomla! Designed by: Free Joomla 1.5 Template, domain instructions. Valid XHTML dan CSS.