Wednesday 08th of September 2010

news blog logo
news menu leftnews menu right

Cerita dan Resensi

Komentar Masuk

Ande-ande Lumut
Ditulis Oleh KH   
Kamis, 01 January 2009 14:26
(" Yya..begitulah. Aku kira aku yang datang terlampau awal. Eeh, rupanya aku kalah cepat". Aku mencoba sebisaku menguasai adrenalin yang membanjir di kepala dan jantung. Menghadirkan dissinkronisasi respon dengan tindakan. Pertama kalinya secara sadar perintah otakku tidak diindahkan oleh anggota tubuhku yang lain (dunia kedokteran menyebutnya sebagai stroke). Ke mana perginya semua ide dalam tulisanmu yang sok kritis itu. Mana visi tentang hidup yang kau banggakan dalam blog-mu, mana? mana? Mana si Ande-ande lumut itu? Semua yang ku tuliskan seakan tersangkut di kerongkongan, semua yang kubayangkan seolah lenyap terserap pancaran pesonanya. Aha...jutaan malaikat kecil sedang terkekeh melihatku, jutaan peri menyemai kembang di hatiku, jutaan...ya jutaan. Satu jam, dua, tiga, dan malam sudah mulai menua. Hingga akhir pertemuan, gelora dalam dada masih belum sepenuhnya reda. Apa boleh buat, copy darat harus dihentikan. Sebuah cerita telah mulai dibangun, nanti ku ceritakan kepadamu. Aku janji.)

Kota, pusat keramaian yang menyimpan di dalamnya ruang-ruang sepi kehampaan. Tempat di mana individu memiliki keistimewaan untuk utuh menjalani egonya. Tempat di mana orang berbondong, terburu, berjuang, dalam kesendiriannya masing-masing. Sungguh, setiap hari orang tergesa pergi ke mana saja. Berebut memperoleh apa saja, riuh seperti laron berkerumun di sekitar petromaks nun di kampungku dahulu. Setiap orang, setiap saat mudah mendapatkan mimpi-mimpinya, namun setiap saat juga orang bisa terjerembab, ke dalam lubang gelapnya. Kota, juga, ruang persembunyian gelisah jiwa di tengah hingar bingarnya. Kota, juga, segala yang terang dan segala yang gelap pekat. Kota adalah paradoks. Sebagaimana hidup pada umumnya.

Inilah janjiku. Setelah kencan pertama di 'dunia nyata' itu. Sejak saat di mana aku gugup gagap bak bayi belajar bicara.

Melihatnya tanpa mengenalnya, pasti akan menurunkan beberapa tingkat kepercayadirian kita (percayalah, aku pernah mengalaminya). Perempuan mapan di usia yang belum lagi menginjak angka 25. Pria mapan dalam posisi yang sama dengannya adalah keniscayaan. Karena begitu banyak kesempatan dan peluang diberikan kepada mahluk dari Mars ini. Ya, meskipun praktek segregasi jender tidak ada, namun harus diakui bahwa secara tradisional kesempatan dan peluang yang dimiliki pria lebih banyak dibanding wanita. Tetapi wanita? Maka dia adalah pengecualian, keistimewan lebih tepatnya. Jadi, kalau tidak benar-benar bernyali, sebaiknya mundur saja dari perempuan macam ini.

Nick Name itu sungguh-sungguh sebuah penyamaran yang amat sempurna. Judul sebuah sajak seorang Pujangga besar, yang tercipta karena kesunyian jiwanya mendamba cinta, yang bertolak belakang dengan gelora semangat dan idealismenya yang nyaris selalu tertumpah lewat tulsan dan kata-katanya. "Apalah arti sebuah nama", katanya. Ya, apalah artinya. Aku jadi teringat sebuah obrolan antara Minke dengan Nyai Ontosoroh dalam Anak Semua Bangsa. Orang Jawa menggunakan nama-nama atau gelar-gelar yang besar-besar. Seakan dunia adalah kecil saja, Jawa saja. Atau barangkali dunia dalam fikiran mereka hanyalah Jawa saja. Faktanya, Jawa dijajah selama lebih dari 350 tahun! Jadi aku mengiyakan pendapatnya. Tetapi Njanji Soenji memang sebuah sajak. Sajak kerinduan di riuh gemerlap kota, yang ku ciptakan. Karena bisa jadi Dia memiliki ruang-ruang gelap sepi yang jauh tersembunyi dan tertutup rapat.

Baca Lagi...
 
Pinus Merkusii
Ditulis Oleh Ash   
Kamis, 01 January 2009 14:22

Jalan itu membelah tepat menjadi dua bagian pemukiman. Menanjak teratur dari lembah sungai terus ke atas menuju lereng gunung, lenyap dari pandangan bersama membirunya pepohonan. Kalau kita berjalan dari arah bawah pada saat cuaca cerah maka gunung itu seolah sedang berdiri menunggu di penghujung horison, tinggi menjulang dengan pucuknya yang seperti mangkuk terbalik. Angkuh namun terlihat damai dalam keheningan warna birunya, sedamai suasana pemukiman itu. Pohon-pohon pinus yang menusuk langit menjadi pagar penjaga sisi jalan.

Aku masih ingat betul, dan akan selalu teringat. Juga ketika semua kedamaian itu berubah menjadi badai dalam hatiku, kerinduanku untuk selalu bisa pulang ke rumah masih tetap menggebu. Hingga kini, setelah dua puluh tahun peristiwa itu berlalu.

"Mas, main ke Jk!" singkat namun jelas tidak sesingkat itu akibatnya. Aku dengan tergopoh-gopoh melihat kembali jadwal imajiner yang ada dalam benakku. Beberapa rencana ku coret, sebagian ku tunda, dan sisanya aku ajukan permintaan maaf karena terpaksa dibatalkan. Semua demi memenuhi panggilan tugas maha penting, hadir di 'kota'-nya. 

Sudah sejak kecil kami saling mengenal. Kami berteman seperti kebanyakan anak-anak yang lain, bermain bersama, bertengkar, damai lagi, bermain lagi, begitu sering terjadi. Beberapa hari itu terjadi intensitas hubungan yang aku sendiri tidak mengerti, sejak aku bertemu kembali saat libur lebaran, di suatu sore yang berkabut tipis. Entah sudah berapa lama tidak pernah bertemu dan dia sudah menjadi gadis dewasa. Kuliah di kota menjadikannya kembang desa yang terawat secara modern, cantik dan berpendidikan. Sungguh sebuah kombinasi yang amat menarik.

Tersenyum manis dia mengulurkan tangan bertanya kabar. Dan secara terus terang ku ungkapkan pujian sambil menggenggam erat tangannya lama-lama, menikmati senyumnya, mata hitam yang teduh, kulit wajah yang bersih (Ah, kemana saja kau selama ini?).

"Wah, hebat. Sudah lulus kuliah dan bekerja. Kapan menikah?" Basa-basi atau tembakan jitu, aku tidak yakin. Tetapi Aku tak mau kalah iseng.

"Ya, tinggal nunggu jawaban. Ya atau tidak, beberapa saat lagi."

"Jangan lupa undangannya ya." Pasti, batinku. Ku pastikan engkau hadir dalam akad nikahku. Ku pastikan engkau ada di resepsi pernikahanku. Seorang gadis manis harus ada di sana.

Kini setiap ku pulang pasti karena keinginan amat sangat untuk menemuinya lagi. Untuk mendengarkan ceritanya. Untuk menyaksikan wajah dan senyumannya. Untuk menghilangkan haus dengan kesejukan matanya. Hari-hariku selalu dipenuhi bayangannya. Lamunanku selalu tentang dirinya, dan khayalanku adalah bersanding dengannya.

Baca Lagi...
 
Gantungkan Cita-citamu Pada Bintang Gemintang
Ditulis Oleh KH   
Selasa, 23 Desember 2008 03:10

Ketika kelas 5 SD, saya ditanya Guru saya," mBul, apa cita-citamu?". Sejenak saya bingung mau manjawab bagaimana. Hendak menanyakan ulang apa yang dimaksud dengan cita-cita rasanya kok malu. Beberapa teman dengan lantang sudah menjawab." Saya ingin jadi Polisi Bu!" jawab Jono teman sebangku. Barangkali dia terilhami lagu Kopral Jono. Kopral Polisi yang berjambul, baik hati, dan disukai para wanita.

"Dokter! biar bisa menolong orang sakit (dan banyak duit, ini belum terpikirkan waktu itu)", kata Nur, cewek berambut ikal yang kemayu."ABRI! supaya bisa membela negara", sahut Amir berambut kuncung mirip tentara." Pedagang!" seru Slamet yang setiap hari membawa permen ke sekolah untuk dijual kepada kami. Beberapa teman lain dengan mantap menjawab sambil menirukan gaya khas profesi idamannya masing-masing.

Saya masih bingung. Tetapi demi mendengar jawaban teman-temanku saya segera mengerti maksud pertanyaan Bu Guru. Justru karena itu kebingunganku bertambah. Saya tidak mau dikira ikut-ikutan Jono, dan tidak mau bersaing dengan Nur yang sok centil, sekaligus  juga tidak mau jadi pedagang.

"Timbul....! apa cita-citamu?", ah, kalaulah hidup boleh memilih 'tidak' untuk saat itu, tentu aku memilih untuk tidak bercita-cita. Tetapi Bu Guru mengatakan bahwa kita harus menggantungkan cita-cita setinggi langit, pada bintang-bintang. Maka demi tidak merusak suasana kelas yang dilanda euforia itu saya menjawab, dengan ragu-ragu," saya ingin jadi banyak : petani, penyiar radio, pelaut, bintang film, bla..bla..bla...".

Saya sudah bersiap untuk ditertawakan. Jadi apa cita-citamu? (mungkin Ibu Guru dalam hatinya menggerutu dan inign tahu begitu). 

Dan siang itu kelas berakhir dengan gelak tawa riang. Kami pulang membawa cita-cita masing-masing ke rumah untuk digantungkan di langit malam lewat mimpi-mimpi kami. Kecuali aku yang butuh banyak bintang untuk menggantung sekian banyak cita-cita.

Tujuh tahun kemudian...

Baca Lagi...
 
« Prev1234 »

Hal 2 of 4
Awal

wisata

Kemisan

Oalah...Indonesiaku
Menyeruak secara tiba-tiba di tengah gegap gempita kampanye capres-cawapres, dua wanita Indonesia ini memaksa perhatian kita masing-masing dengan peristiwanya yang boleh dibilang klasik namun ternyata masih menyisakan pertanyaan yang belum tuntas jawabnya.
Pertama adalah kasus Manohara, perempuan jelita yang memiliki kisah bak dongeng sebelum tidur ini begitu gencar diliput media (infotainment) akibat antiklimaks jalan cerita yang dialaminya. Entah mengapa kasus ini menyita begitu banyak perhatian media massa di saat ribuan perempuan Indonesia di negeri jiran itu yang, bahkan, mengalami nasib lebih buruk. Beruntungnya Manohara, setidaknya, Ia bisa kembali ke pangkuan keluarganya dengan selamat. Beruntungnya pula ia karena selain liputan media, ia juga 'didukung oleh negara' . Ia juga memiliki keluarga yang mampu menjadikan kasus tersebut menjadi penting dan layak untuk dibela.
Kita tenta mafhum dengan banyaknya kasus serupa yang menimpa TKI (wanita) kita di luar negeri. Tidak jarang mereka hanya kembali jasadnya saja yang sudah kaku terbujur, banyak lainnya yang masih tersekap ,disiksa, diperkosa, dan tidak memiliki seorang pun yang peduli apalagi membelanya. Tidak terdengar gegap gempita liputan media ataupun limpahan simpati dari khalayak umum. Bahkan negara pun sering terlihat serba gamang. Inilah potret yang masih sering kita saksikan sampai dengan sekarang ini. TKW kita sering pulang dengan luka disekujur badan dan depresi tanpa siapa peduli, Manohara yang cantik pulang dan segudang skenario sinetron sudah menunggu. Wakakak..kakak...kak...
Kedua, tentu saja, adalah kasus yang menimpa ibu rumah tangga beranak balita 2 orang, Prita. Kasus Prita (VS RS OMNI) mendadak menjadi pusat perhatian orang tidak saja para pelahap gossip. Bahkan sampai Presiden dan Capres-Cawapres ikut cawe-cawe menunjukkan simpatinya. Para pejabat terkait pun turut serta dibuat sibuk. Kasus ini sepertinya sepele. Hanya masalah surat elektronik mengenai ketidakpuasan seorang pasien sakit yang disampaikan kepada kalangan dekat pasien. Namun sontak berubah menjadi kasus penting ketika aparat penegak hukum dengan gagah berani menerapkan pasal-pasal tindak pidana serius dengan ancaman hukuman labih dari 5 tahun. Logika hukum mengatakan dengan ancaman hukuman seperti itu maka tersangka harus ditahan. Maka Prita pun menjalani kehidupannya di balik jeruji ruang tahanan, terpisah dari suami, dan yang menyedihkan, terpisah dari dua buah hatinya yang masih mungil.
Publik sontak terkejut dan berekaksi keras. Ribuan pendukung cause di situs jejaring Face Book, komentar para ahli hukum, pakar HAM, dan masyarakat luas, senada mempertanyakan langkah penahanan Prita. Hanya karena berkirim surel mengenai curahan ketidakpuasannya atas pelayanan RS. Orang mencibir langkah RSO yang seperti membunuh nyamuk dengan senapan mesin. Orang juga mencibir langkah penegak hukum yang menerapkan pasal-pasal tersebut yang menyebabkan Prita ditahan.
Publik jelas menyaksikan ketidakadilan yang amat telanjang di sini. Lebih dari itu, publik kembali menyadari bahwa kebebasan berekspresi mengeluarkan pendapat yang merupakan HAM (diam-diam) masih ada yang tidak sepakat, masih menghadapi ancaman serius, justru di era reformasi yang penuh euforia kebebasan!
Bau busuk di belakang kasus ini pun mulai dicurigai berbagai kalangan. Siapa yang bermain kekuasaan sehingga menyeret persoalan yang sederhana ini menjadi terlihat berat dan serius. Ada apa di balik penerapan Undang-undang ITE dalam kasus itu?
Sisi baiknya, dua berita itu sungguh telah membangunkan kita dari mimpi-mimpi indah dan janji-janji kosong para juru kampanye capres-cawapres. Selamat menikmati...
 


Kampanye Hijau


Diedit dari Joomla! Designed by: Free Joomla 1.5 Template, domain instructions. Valid XHTML dan CSS.