Thursday 09th of September 2010

news blog logo
news menu leftnews menu right
Hak Azasi Anda, Dicabut! PDF Print E-mail
Ditulis Oleh   
Kamis, 02 April 2009 07:26

Bukan main, batinku ketika bersama segerombolan mahasiswa baru yang lain berjubel memasuki gerbang kampus. Ini hari pertama sekolah dengan predikat mahasiswa. Kawanku satu seklolah malah dengan berapi-api mengatakan : Kita ini sekarang jadi mahasiswa. Agent of change. Tahukan kau apa yang dimaksud dengan agent of change itu? Penggerak perubahan, penggerak revolusi. Tahukah kau siapa yang berdri paling depan di muka moncong meriam pemerintah komunis Cina? tahukan kau siapa yang berdiri paling depan menuntuk Roh Tae Woo mundur? dan tahukan kau siapa Soekarno ketika berjuang menyatukan Republik Indonesia? Syahrir? Bung Hatta?

Dan kami yang memaklumi kegembiraanya serentak menjawab dengan lantang : MAHASISWA!, semoga dia puas. Buktinya dia kemudian menurunkan nada bicaranya dan cengar-cengir kaya kuda sumbawa kegatelan.

Jelas tertulis di sebuah spanduk yang terbentang, ucapan (sanjungan lebih tepatnya ):

SELAMAT DATANG PUTRA-PUTRI TERBAIK BANGSA

Ttd Senat Mahasiswa

Tiba-tiba ada kebanggaan membuncah memenuhi dada. Tidak main-main, konon sampai bisa berhasil diterima sebagai mahasiswa di sini, masing-masing dari kami telah mengalahkan 40 kandidat lain. Itu sama dengan jumlah siswa SMA satu kelas. Itu berarti juga kami layak disebut sebagai yang terbaik di kelas. Maka klaim Senat Mahasiswa itu memang tidak asal-asalan. Namun pada saat yang sama, di sisi ruang hati yang lain ada suara menyanggah. Ah, kalau tidak karena gratis, kalau tidak karena ada jaminan pekerjaan, kalau tidak karena prestis, dst..dst...mungkin kami tidak di sini. Tapi tak apalah, klaim apa saja yang bisa membusungkan dada ini. Aku hanya perlu kepastian yang kelak kau berikan : Gaji...he..he..he.

Tetapi rasa bangga itu rupanya harus disimpan dulu baik-baik sebab sebuah bentakan nyaring menghardik kami agar bergegas memasuki pelataran kampus, dengan jalan berjongkok! Tak urung, rasa sebal dan kesal mengiringi langkah. Tidakkah kalian tahu, wahai para senior. Di tas karung kami tersedia beracam-macam perlengkapan. Di ke dua tangan kami masih harus membawa peralatan tulis, dan aksesoris macam-macam. Dan Kami belum tidur semalaman gara-gara harus mencatat harga sayur mayur dan merangkum isi berita RRI pukul 00.00 dini hari.

Maka dengan deru nafas yang terbatas dan kantuk yang masih tertumpuk, kami 'ngesot' ke halaman upacara seperti bekicot, terus berbaris sambil meringis, mengikuti upacara yang penuh makna...bla...bla...bla. Dan ternyata upacara pagi itu hanya sebuah permulaan, fait accomply tepatnya. Karena tanpa persetujuan kami, Ketua Senat dengan semena-mena menyatakan bahwa mulai hari itu : HAK AZAZI KALIAN SEBAGAI MANUSIA TELAH DICABUT!

Mengingat jerih payah kami dalam menyingkirkan 39 kompetitor, ditambah harapan besar dari keluarga di kampung halaman, ditambah aneka fasilitas yang akan kami dapatkan, ditambah cerita mengerikan menjadi penganggur selepas sekolah, kami sepakat untuk : tidak patheken,  ambil saja sesukamu! Seminggu, seminggu saja ambillah semua yang bisa kau. Perlakukan aku sesukamu, jungkirkan aku, push up kan aku, beri perintah yang aneh-aneh, asal jangan kau suruh aku mengecat ulang Monas dengan warna purple agar sesuai dengan kenyataan kemakmuran yang masih di awang-awang. Lagian Pak Harto pasti marah nanti karena kuning adalah perlambang kemakmuran, dan terutama perlambang Golkar sang penguasa waktu itu. Jadi, seminggu ini kami adalah kambing-kambing congek yang tidak tahu dan tidak bisa apapun kecuali mematuhi perintahmu. Dan kami tidak keberatan.

Hasilnya? Ah, sejak dulu ritual perploncoan, atau apapun namanya, tidak pernah berpretensi untuk menyiapkan mental menghadapi sistem pembelajaran perguruan tinggi. Ia tetap menjadi ajang iseng-iseng berhadiah. Kalaupun ada, mungkin sedikit jalinan pertemanan yang rapuh sebab kredit SKS yang harus ditempuh sudah cukup membuat orang menjadi sedikit autis. Ya, apa boleh buat. Tradisi mengatakan demikian. Di sini semua sudah disediakan, selain kebutuhan hidup pribadi tentunya. Jumlah materi yang harus dilahap sudah diputuskan, batas nilai yang diwajibkan untuk lulus sudah ditetapkan, pekerjaan usai lulus kuliah sudah disediakan, uang saku selama kuliah diberikan setiap bulan. Pokoknya kami tinggal belajar dan belajar. Ingat kata orang tua, rajin belajar pangkal pandai. Ingat kata temanku, si kuda sumbawa, agent of change, ingat pesan kakak kelas, jangan anti pemerintah, anti ABRI, Anti Golkar, apalagi berkelahi, atau kau akan di Drop Out! dan pulang kampung membawa malu spanjang hayat dikandung badan. Sekali malu tetap malu.

( this is part one)

 

 

 

+/-
Tinggalkan Komentar
Nama:
Email:
 
Situs:
Judul:
Kode UBB:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Masukkan kode Anti-Spam.
+/- Tanggapan
Tambahkan Cari LIhat Semua
Seseorang  - re: Mahasiwa..   |202.138.246.2 |2009-06-19 16:32:36
irfan Menulis:
weh, ini cerita klasik siapa n kapan kang?...salam..

---Jelas ini fiksi bro, he..he..he..
irfan  - Mahasiwa..     |117.103.172.18 |2009-04-05 06:44:08
weh, ini cerita klasik siapa n kapan kang? Oya kang, pernah kepikir milih jadi
prajurit daripada mahasiswa ga? ada satu hal yang dianggap wajar oleh
orang-orang tetapi sebenarnya sangat besar manfaatnya, yaitu peran para prajurit
dalam membantu merespon banyak bencana yang terjadi.. (pengalaman gempa
jogja)... keliatannya, orang2 masih tidak memperhatikan hal ini.. Yang unik,
walau ada manfaatnya juga, mahasiswa kadang cuma bengak bengok bencana jangan
jadi ajang kampanye saja.. ya walau itu pun perlu jadi perhatian, tapi yang
penting gawean manfaat bisa terlaksana walau keikhlasan masih diragukan..
salam..

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

wisata



Kampanye Hijau


Diedit dari Joomla! Designed by: Free Joomla 1.5 Template, domain instructions. Valid XHTML dan CSS.