| Gantungkan Cita-citamu Pada Bintang Gemintang |
|
|
|
| Ditulis Oleh | ||||||||||||||||||||||||||||||||
| Selasa, 23 Desember 2008 03:10 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Ketika kelas 5 SD, saya ditanya Guru saya," mBul, apa cita-citamu?". Sejenak saya bingung mau manjawab bagaimana. Hendak menanyakan ulang apa yang dimaksud dengan cita-cita rasanya kok malu. Beberapa teman dengan lantang sudah menjawab." Saya ingin jadi Polisi Bu!" jawab Jono teman sebangku. Barangkali dia terilhami lagu Kopral Jono. Kopral Polisi yang berjambul, baik hati, dan disukai para wanita. "Dokter! biar bisa menolong orang sakit (dan banyak duit, ini belum terpikirkan waktu itu)", kata Nur, cewek berambut ikal yang kemayu."ABRI! supaya bisa membela negara", sahut Amir berambut kuncung mirip tentara." Pedagang!" seru Slamet yang setiap hari membawa permen ke sekolah untuk dijual kepada kami. Beberapa teman lain dengan mantap menjawab sambil menirukan gaya khas profesi idamannya masing-masing. Saya masih bingung. Tetapi demi mendengar jawaban teman-temanku saya segera mengerti maksud pertanyaan Bu Guru. Justru karena itu kebingunganku bertambah. Saya tidak mau dikira ikut-ikutan Jono, dan tidak mau bersaing dengan Nur yang sok centil, sekaligus juga tidak mau jadi pedagang. "Timbul....! apa cita-citamu?", ah, kalaulah hidup boleh memilih 'tidak' untuk saat itu, tentu aku memilih untuk tidak bercita-cita. Tetapi Bu Guru mengatakan bahwa kita harus menggantungkan cita-cita setinggi langit, pada bintang-bintang. Maka demi tidak merusak suasana kelas yang dilanda euforia itu saya menjawab, dengan ragu-ragu," saya ingin jadi banyak : petani, penyiar radio, pelaut, bintang film, bla..bla..bla...". Saya sudah bersiap untuk ditertawakan. Jadi apa cita-citamu? (mungkin Ibu Guru dalam hatinya menggerutu dan inign tahu begitu). Dan siang itu kelas berakhir dengan gelak tawa riang. Kami pulang membawa cita-cita masing-masing ke rumah untuk digantungkan di langit malam lewat mimpi-mimpi kami. Kecuali aku yang butuh banyak bintang untuk menggantung sekian banyak cita-cita. Tujuh tahun kemudian... Langit desa gelap dan angin musim penghujan bertiup resah. Batang-batang bambu berderit seperti nyanyian horor. Sementara air hujan tercurah deras membasahi malam. Angin musim ketiga tak lelah-lelah mengungkit-ungkit paku perekat seng di atap rumah, bunyinya bising dan membuat takut. Beberapa bagian telah terangkat dan menjuntai ke tanah membuka pintu air hujan membasahi rumah. Alam selalu begitu setiap penghujung tahun. Di luar, warna malam hanya pekat dan rapat terpaku tetesan air dari langit. Hanya gelap dan suara gaduh menyelubungi semesta. Bintang gemintang lenyap tersapu kabut, tak lagi mau menampung cita-cita kecil kami. Satu demi satu mimpi-mimpi itu berguguran mengalir bersama tetes air menuju selokan, ke sungai, ke sawah, dan hilang ditelan bumi. Seiring bertambahnya beban hidup orang-orang tua kami, seorang calon dokter sudah terlebih dulu menikah selepas SMP. Seorang calon Polisi telanjur menjadi sopir angkutan desa. Dan seorang calon pedagang sudah terlebih dahulu merantau ke kota sebelum sempat membaca Philip Kottler dan belajar manajemen pemasaran. Bukan cita-cita kami yang salah, tetapi mungkin waktu yang belum berpihak. Sedangkan si calon petani, kini tengah dihinggapi kegamangan selepas SMA, terancam putus sekolah alias tidak dapat meneruskan ke jenjang perguruan tinggi karena alasan klasik, ketiadaan biaya. Beruntunglah, karena Tuhan memang selalu menyediakan jalan untuk hamba yang berkeinginan, saya lolos ujian masuk sekolah kedinasan. Gembira bukan main perasaanku. Aku bisa meneruskan sekolah tanpa harus mengeluarkan biaya yang terlampau banyak, bahkan mendapatkan uang saku yang cukup lumayan. Dan setelah lulus, aku pasti bekerja dan digaji. Aku berniat menabung dari gajiku dan kelak akan ku beli sawah demi meretas satu per satu mozaik hidupku yang pernah ku cita-citakan. Tetapi aku juga ingin kuliah jurnalistik agar bisa jadi penyiar radio, dan aku mendaftar di teknik kelautan karena ingin jadi pelaut. Beruntunglah, aku tidak jadi ndaftar IKJ. Karena untuk jadi bintang film rupanya kurang diperlukan bekal ilmu kesenian yang cukup, jadi percuma kuliah di situ. Lagian, tampangku tidak ada cakep-cakepnya...
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||||||||||||||||||||||||||||






