| Caleg Gagal Gila |
|
Ironi pemberitaan media massa jelang Pemilu 9 April 2009 (besok) memang mengerikan. Di antara riuh rendahnya berita kampanye, menyeruak berita tentang antisipasi beberapa rumah sakit menyiapkan ruang perawatan guna menampung orang gila baru.Dan yang diprediksikan bakal menghuni ruang perawatan ini adalah mereka yang gagal dalam Pemilu legislatif. Kita tidak tahu latar belakang antisipasinya, kok, sampai segitunya. Padahal yang rela berkorban mendaftar jadi calon anggota legislator kan sudah lulus medical check up, ya? artinya kurang lebih mereka sehat jiwa dan raga, bahkan bisa jadi lebih dari sekedar orang biasa. Masak sih, orang-orang (calon) pilihan tiba-tiba diidentikkan dengan calon orang gila juga. Mungkin belajar dari kisah sukses gilanya seorang calon kepala daerah yang gagal Pilkada? atau berangkat dari pemahaman bahwa selama menjadi caleg seseorang telah begitu banyak berkorban harta benda, fikiran, waktu, dan segalanya sambil memupuk harapan kelak terpilih. Lantas setelah hasil penghitungan suara ternyata perolehan suaranya tidak cukup mengantarkannya ke kursi legislatif? terus stress berat karena pengorbanannya sia-sia belaka, atau merasa dihianati pemilih yang telah dirayunya habis-habisan? tak tahulah. Yang jelas, diam-diam telah berkembang asumsi bahwa menjadi anggota legislator (Aleg) berarti terbayarnya semua pengorbanan tadi. Mungkin ditambah keuntungan-keuntungan yang lain. Hitung-hitungannya adalah keluar 1 masuk 1 ditambah 1 ditambah 1 ditmbah satu lagi, dan seterusnya. Yang berarti kegagalan akan dimaknai sebagai tertumpuknya hutang ditambah hutang ditambah hutang dan seterusnya, yang harus dikembalikan. Dari mana lagi? Nah, dari rangkaian kegagalan inilah yang mungkin akan membuka jalan menuju depresi yang akut. Hutang banyak, modal habis, tenaga terkuras, dan kembali menjadi bukan siapa-siapa di tengah masyarakat. Oke, kalau begitu tepat kiranya disiapkan banyak kamar perawatan. Lha jumlah calegnya aja ribuan kok...Ah, sudahlah. Semoga tidak benar terjadi peristiwa tersebut. Bukankan para caleg itu sudah siap menang dan siap kalah? jadi kalau kemenangan yang diraih hendaknya tidak semata dipandang sebagai hal yang patut disyukuri, tetapi juga di maknai sebagai beban amanat. Kalau 'kegagalan' yang diterima hendaknya tetap dijaga sebagai pelajaran untuk selalu menempatkan proses sebelum hasil. Jangan sampai menjadi tamu-tamu RSJ. Karena bisa jadi anda akan gial dua kali. Pertama, gila karena gagal jadi anggota dewan. Kedua, gila karena mikirin biaya rumah sakit. Selamat Memilih...
|
wisata
Cerita (dari) Kampung
| Hak Azasi Anda, Dicabut! |
Bukan main, batinku ketika bersama segerombolan mahasiswa baru yang lain berjubel memasuki gerbang kampus. Ini hari pertama sekolah dengan predikat mahasiswa. Kawanku satu seklolah malah dengan berapi-api mengatakan : Kita ini sekarang jadi mahasiswa. Agent of change. Tahukan kau apa yang dimaksud dengan agent of change itu? Penggerak perubahan, penggerak revolusi. Tahukah kau siapa yang berdri paling depan di muka moncong meriam pemerintah komunis Cina? tahukan kau siapa yang berdiri paling depan menuntuk Roh Tae Woo mundur? dan tahukan kau siapa Soekarno ketika berjuang menyatukan Republik Indonesia? Syahrir? Bung Hatta? Dan kami yang memaklumi kegembiraanya serentak menjawab dengan lantang : MAHASISWA!, semoga dia puas. Buktinya dia kemudian menurunkan nada bicaranya dan cengar-cengir kaya kuda sumbawa kegatelan. Jelas tertulis di sebuah spanduk yang terbentang, ucapan (sanjungan lebih tepatnya ): SELAMAT DATANG PUTRA-PUTRI TERBAIK BANGSA Ttd Senat Mahasiswa Tiba-tiba ada kebanggaan membuncah memenuhi dada. Tidak main-main, konon sampai bisa berhasil diterima sebagai mahasiswa di sini, masing-masing dari kami telah mengalahkan 40 kandidat lain. Itu sama dengan jumlah siswa SMA satu kelas. Itu berarti juga kami layak disebut sebagai yang terbaik di kelas. Maka klaim Senat Mahasiswa itu memang tidak asal-asalan. Namun pada saat yang sama, di sisi ruang hati yang lain ada suara menyanggah. Ah, kalau tidak karena gratis, kalau tidak karena ada jaminan pekerjaan, kalau tidak karena prestis, dst..dst...mungkin kami tidak di sini. Tapi tak apalah, klaim apa saja yang bisa membusungkan dada ini. Aku hanya perlu kepastian yang kelak kau berikan : Gaji...he..he..he. Tetapi rasa bangga itu rupanya harus disimpan dulu baik-baik sebab sebuah bentakan nyaring menghardik kami agar bergegas memasuki pelataran kampus, dengan jalan berjongkok! Tak urung, rasa sebal dan kesal mengiringi langkah. Tidakkah kalian tahu, wahai para senior. Di tas karung kami tersedia beracam-macam perlengkapan. Di ke dua tangan kami masih harus membawa peralatan tulis, dan aksesoris macam-macam. Dan Kami belum tidur semalaman gara-gara harus mencatat harga sayur mayur dan merangkum isi berita RRI pukul 00.00 dini hari. |
| Read more... |


