Wednesday 08th of September 2010

news blog logo
news menu leftnews menu right
Memilih Kritis atau Pragmatis?
Ditulis Oleh   
Kamis, 12 Maret 2009 00:00

Akhirnya, imbas krisis finansial global itu harus diterima juga. Gaji dari perusahaan bulan ini belum dibayarkan. Yang artinya mengalami keterlambatan sekitar dua minggu dari biasanya. Itu masih ditambah gosip yang sudah luas beredar bahwa 'layak dipercaya' dua bulan yang akan datang kondisi keuangan perusahaan masih belum berubah. Berarti tiga bulan ke depan harus memulai pola hidup 'mantab', alias makan tabungan.Omong-omong, sampai kapan sih krisis keuangan ini akan berlangsung? Benarkan efeknya lebih dahsyat dibandingkan dengan krisis moneter sepuluh tahun yang lalu? Banyak analisis dari berbagai sumber maupun penuturan dari kalangan dunia usaha yang mengiyakan kekhawatiran tersebut. Tetapi krisis atau tidak krisis, kita toh tetep menyaksikan setiap saat uang dihambur-hamburkan di sekitar kita.

Tidak percaya? Coba saja hitung berapa besar pengeluaran seorang kandidat anggota DPR yang harus di gelontorkan, hanya, untuk berkampanye? Atau yang lebih dahsyat lagi calon-calon presiden/wakil presiden yang sudah mulai berkokok saling menantang dan saling mengintip satu dengan yang lain. Tidak perlu matematika yang rumit, pasti kita bisa memperkirakan kisaran angkanya yang 'Wah'. Dan berkhayal seandainya uang sebanyak itu digunakan untuk bla..bla..bla.

Tentu saja the show must go on. Jadwal sudah dirancang sejak lima tahun yang lalu. Anggaran sudah disepakati jauh hari sebelum dunia didera krisis. Ironis memang, tapi hajatan besar yang bernama pesta demokrasi ini jelas memiliki arti yang amat penting bagi kelangsungan hidup sebuah entitas politik yang bernama Republik Indonesia. Soal penghamburan dana kontestan pemilu untuk meraih suara pemilih, itu lain hal. Juga soal kelak setelah terpilih wakil-wakil rakyat yang baru, presiden dan wakil presiden yang baru keadaan hidup masih jalan di tempat ya, itu nasib. Lha, faktanya yang memicu krisis memang dari sono kok, kira-kira begitu dalihnya.

Entah karena krisis ini tidak dipredikis sebelumnya oleh kita dan mereka atau karena ketidakpedulian, jargon kampanye yang digembar-gemborkan masih jauh dari sense of crisis . Nyaris tidak ada pernyataan ataupun ajakan kontestan pemilu untuk bagaimana menyikapi krisis dan bagaimana merencanakan jalan keluar. Semua masih melambung di awang-awang, janji-janji muluk, harapan kosong. Persis sinetron-sinetron di televisi kita. Tak perlu jelas benar bagaimana caranya, bagaimana kerjanya, apa yang harus dilakukan, pokoknya bersama kita bisa, atau pilihlah saya, atau kami lebih berpengalaman, atau apalah...

Mengerikan apabila melihat kondisi riil masyarakat yang mencoba bertahan di tengah kesusahan sementara yang dijejalkan hanya janji kosong tanpa visi yang jelas. Apalagi hanya dengan iming-iming materi.

Lebih mengerikan lagi apabila kelak setelah terpilih menjadi anggota dewan yang terhormat, yang didahulukan adalah mencari cara agar modal yang telah dikeluarkan dapat kembali secepatnya. Lebih banyak dan lebih cepat.

Kembali ke awal. Ada banyak orang yang mengalami nasib sama seperti diceritakan di awal paragraf ini. Ribuan lainnya bahkan lebih parah kondisinya. Sementara itu ada keinginan untuk mencari dan menentukan pilihan terbaik di antara ribuan caleg yang mungkin tidak dikenal betul. Pertanyaannya, apakah kita cukup punya kesempatan untuk memikirkan hal itu? atau kita akan berfikir pragmatis (sebagaimana para politisi kita berfikir) dengan memihak siapa yang memberi imbalan langsung, itu yang dipilih. Mudah-mudahan nalar kritis kita tidak semakin terkikis. Mudah-mudahan orang yang kita pilih tidak salah. Mudah-mudahan mereka mampu memberi energi baru buat kita untuk bangkit dari keterpurukan.

Ah, memang tidak enak Pemilu di tengah krisis seperti sekarang ini.

 

 

 

 

 
Awal Catatan Kemis Memilih Kritis atau Pragmatis?

wisata

Cerita (dari) Kampung

Hak Azasi Anda, Dicabut!

Bukan main, batinku ketika bersama segerombolan mahasiswa baru yang lain berjubel memasuki gerbang kampus. Ini hari pertama sekolah dengan predikat mahasiswa. Kawanku satu seklolah malah dengan berapi-api mengatakan : Kita ini sekarang jadi mahasiswa. Agent of change. Tahukan kau apa yang dimaksud dengan agent of change itu? Penggerak perubahan, penggerak revolusi. Tahukah kau siapa yang berdri paling depan di muka moncong meriam pemerintah komunis Cina? tahukan kau siapa yang berdiri paling depan menuntuk Roh Tae Woo mundur? dan tahukan kau siapa Soekarno ketika berjuang menyatukan Republik Indonesia? Syahrir? Bung Hatta?

Dan kami yang memaklumi kegembiraanya serentak menjawab dengan lantang : MAHASISWA!, semoga dia puas. Buktinya dia kemudian menurunkan nada bicaranya dan cengar-cengir kaya kuda sumbawa kegatelan.

Jelas tertulis di sebuah spanduk yang terbentang, ucapan (sanjungan lebih tepatnya ):

SELAMAT DATANG PUTRA-PUTRI TERBAIK BANGSA

Ttd Senat Mahasiswa

Tiba-tiba ada kebanggaan membuncah memenuhi dada. Tidak main-main, konon sampai bisa berhasil diterima sebagai mahasiswa di sini, masing-masing dari kami telah mengalahkan 40 kandidat lain. Itu sama dengan jumlah siswa SMA satu kelas. Itu berarti juga kami layak disebut sebagai yang terbaik di kelas. Maka klaim Senat Mahasiswa itu memang tidak asal-asalan. Namun pada saat yang sama, di sisi ruang hati yang lain ada suara menyanggah. Ah, kalau tidak karena gratis, kalau tidak karena ada jaminan pekerjaan, kalau tidak karena prestis, dst..dst...mungkin kami tidak di sini. Tapi tak apalah, klaim apa saja yang bisa membusungkan dada ini. Aku hanya perlu kepastian yang kelak kau berikan : Gaji...he..he..he.

Tetapi rasa bangga itu rupanya harus disimpan dulu baik-baik sebab sebuah bentakan nyaring menghardik kami agar bergegas memasuki pelataran kampus, dengan jalan berjongkok! Tak urung, rasa sebal dan kesal mengiringi langkah. Tidakkah kalian tahu, wahai para senior. Di tas karung kami tersedia beracam-macam perlengkapan. Di ke dua tangan kami masih harus membawa peralatan tulis, dan aksesoris macam-macam. Dan Kami belum tidur semalaman gara-gara harus mencatat harga sayur mayur dan merangkum isi berita RRI pukul 00.00 dini hari.

Read more...


Kampanye Hijau


Diedit dari Joomla! Designed by: Free Joomla 1.5 Template, domain instructions. Valid XHTML dan CSS.