Thursday 09th of September 2010

news blog logo
news menu leftnews menu right
Sederhana itu...

Jaman makin canggih, makin memudahkan manusia melakukan hal-hal yang sulit, bahkan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Tetapi kecanggihan berarti juga harus terpenuhinya semua tuntutan. Semakin kita meleburkan diri dalam kecanggihan, semakin banyak hal harus dikerjakan untuk memenuhi tuntutan. Kehidupan memang tidak bisa menunggu. Jadi, apapun, mesti bergerak. Dan dalam beberapa hal gerak itu adalah berlari dengan cepat. Maka menjadi bagian dari kecanggihan jaman adalah niscaya menjadi pelari yang mengejar jaman juga. Menjadi manusia modern adalah mencari bentuk paling sesuai dengan tuntutan jaman. Mungkin dengan beberapa pengorbanan.

Super sibuk, adalah julukan manusia-manusia di jaman ini. Di setiap kesempatan dapat ditemukan orang-orang betipe seperti ini. Semakin sedikit alokasi waktu yang dapat digunakan secara bebas untuk memberikan kesempatan terhadap 'wajah asli'-nya untuk berkembang. Sebab untuk berbaur dengan segala kesibukan itu tidak bisa tampil a la kadarnya. Kita tidak dapat terbebas dari segala macam atribut-atribut manusia modern yang telah menjadi semacam kebutuhan pokok. Bahkan untuk bersosialisasi sekalipun, jarang atribut-atribut itu dapat dilepaskan. Atribut itu adalah simbol yang hendak mengatakan kepada orang lain dengan siapa anda sedang berhadapan atau berinteraksi. 

Namun segala kecanggihan dan kemegahan simbol itu toh sejatinya hanya menampilkan sisi lain dari wajah sejati kita. Kerap kita merasa bahwa semua hal itu ternyata membebani, artifisial, dan menipu. Kita seringkali merindukan hal-hal yang masih lugu, polos, dan sederhana. Saat-saat tertentu panggilan itu demikian kuatnya. Apa boleh buat. Maka di sela-sela himpitan waktu, kita menyempatkan diri untuk memenuhinya.

Pertarungan untuk menjadi manusia  modern selalu memicu, pada saat yang sama, keinginan untuk kembali ke jati diri. Itu adalah masa lalu, sejarah, asal muasal, akar budaya, lingkungan tumbuh, alam, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan prosesi lahir, tumbuh, dan bergaul kita. Bukan sekedar romantisme kalau tiba-tiba kita merasa kehilangan sebagian atau seluruh masa lalu (baca nostalgia) kita. Semata-mata karena kita membutuhkan dasar pijakan yang kukuh untuk mewujudkan identitas jati diri. Tanpa itu semua, kita akan semakin terasing dalam rimba modernitas, bertindak tanpa nilai, berpijak tanpa moralitas, dan menjadi sepenuhnya manusia serigala yang buas.

Ironisnya, nilai-nilai lama itu semakin sulit ditemukan dalam realitas keseharian kita. Kesederhanaan dianggap sebagai nilai kehidupan desa semata yang tidak kompatibel dengan rasionalitas kota. Kejujuran dianggap sebagai keluguan yang merugikan. Silaturahmi, atau apapun istilahnya, hanya sekedar basa-basi untuk saling mengambil manfaat finansial, status sosial, politik, tanpa peduli esensinya dalam membentuk kembali bangunan yang bernama manusia yang utuh. Bahkan alam semesta dieksplorasi dan dieksploitasi semata hanya karena pertimbangan untung rugi, penumpukan modal.

Apakah menjadi modern harus selalu meningalkan kesederhanaan, ketulusan, dan segala sesuatu yang immaterial? Tentu tidak. Menjadi manusia jaman tanpa bekal pengetahuan dan akar jati diri hanya akan mebenturkan diri ke dalam kontradiksi-kontradiksi, paradoks-paradoks yang membingungkan. Yang pada gilirannya akan mengasingkan manusia dari sesamanya. Kearifan lokal yang didapatkan dari sistem nilai, budaya, dan lingkungan setempat  harus menjadi landasan yang kuat sebelum bangungan bernama modernitas itu kita dirikan.

 

 

 
Awal Catatan Kemis Sederhana itu...

wisata

Cerita (dari) Kampung

Hak Azasi Anda, Dicabut!

Bukan main, batinku ketika bersama segerombolan mahasiswa baru yang lain berjubel memasuki gerbang kampus. Ini hari pertama sekolah dengan predikat mahasiswa. Kawanku satu seklolah malah dengan berapi-api mengatakan : Kita ini sekarang jadi mahasiswa. Agent of change. Tahukan kau apa yang dimaksud dengan agent of change itu? Penggerak perubahan, penggerak revolusi. Tahukah kau siapa yang berdri paling depan di muka moncong meriam pemerintah komunis Cina? tahukan kau siapa yang berdiri paling depan menuntuk Roh Tae Woo mundur? dan tahukan kau siapa Soekarno ketika berjuang menyatukan Republik Indonesia? Syahrir? Bung Hatta?

Dan kami yang memaklumi kegembiraanya serentak menjawab dengan lantang : MAHASISWA!, semoga dia puas. Buktinya dia kemudian menurunkan nada bicaranya dan cengar-cengir kaya kuda sumbawa kegatelan.

Jelas tertulis di sebuah spanduk yang terbentang, ucapan (sanjungan lebih tepatnya ):

SELAMAT DATANG PUTRA-PUTRI TERBAIK BANGSA

Ttd Senat Mahasiswa

Tiba-tiba ada kebanggaan membuncah memenuhi dada. Tidak main-main, konon sampai bisa berhasil diterima sebagai mahasiswa di sini, masing-masing dari kami telah mengalahkan 40 kandidat lain. Itu sama dengan jumlah siswa SMA satu kelas. Itu berarti juga kami layak disebut sebagai yang terbaik di kelas. Maka klaim Senat Mahasiswa itu memang tidak asal-asalan. Namun pada saat yang sama, di sisi ruang hati yang lain ada suara menyanggah. Ah, kalau tidak karena gratis, kalau tidak karena ada jaminan pekerjaan, kalau tidak karena prestis, dst..dst...mungkin kami tidak di sini. Tapi tak apalah, klaim apa saja yang bisa membusungkan dada ini. Aku hanya perlu kepastian yang kelak kau berikan : Gaji...he..he..he.

Tetapi rasa bangga itu rupanya harus disimpan dulu baik-baik sebab sebuah bentakan nyaring menghardik kami agar bergegas memasuki pelataran kampus, dengan jalan berjongkok! Tak urung, rasa sebal dan kesal mengiringi langkah. Tidakkah kalian tahu, wahai para senior. Di tas karung kami tersedia beracam-macam perlengkapan. Di ke dua tangan kami masih harus membawa peralatan tulis, dan aksesoris macam-macam. Dan Kami belum tidur semalaman gara-gara harus mencatat harga sayur mayur dan merangkum isi berita RRI pukul 00.00 dini hari.

Read more...


Kampanye Hijau


Diedit dari Joomla! Designed by: Free Joomla 1.5 Template, domain instructions. Valid XHTML dan CSS.