Wednesday 08th of September 2010

news blog logo
news menu leftnews menu right
Apa Kabar Indonesia
AS...
Konon, dalam tata pergaulan dunia sekarang ini, Amerika Serikat (AS) adalah kiblat ke arah mana semua negara lain berpaling. Sebagai satu-satunya negara adi daya (benar begitu?), AS  menjadi rujukan pada hampir setiap permasalahan di dunia. Dari persoalan perang militer hingga persoalan ekonomi, lingkungan hidup, HAM, semuanya. Faktanya, memang di hampir semua masalah itu dapat ditemui keterlibatannya baik yang multilateral maupun yang AS sebagai dalang sekaligus aktor tunggalnya.
Tidak heran kemudian kalau hubungan baik/buruk dengan AS menjadi faktor signifikan dalam peta pergaulan antar bangsa. Tentu saja karena AS amat berkuasa, setidaknya sampai saat ini.
Maka kunjungan wakil pemerintah AS ke negara lain menjadi isu internasional yang strategis yang membawa banyak dampak terhadap negara yang bersangkutan. Bantuan ekonomi, militer, kerja sama bidang IPTEK, dan aliansi dalam bidang apapun yang ujung-ujungnya mengalirkan dolar dari kocek Paman Sam itu. Tentu saja tidak ada makan siang gratis. Semua bentuk kerja sama, bantuan, hibah, atau apapun namanya hanya akan berjalan apabila kepentingan sang Paman terlindungi dengan baik.
Baca Lagi...
 
Kuliah Subuh

Sepanjang Senin hingga Jum’at pagi hari-hariku diisi dengan aktivitas yang sama. Pertama, tersadar dari tidur ketika alarm azan subuh berbunyi. Samar-samar terdengar kesibukan istriku  di dapur  menyalakan kompor dan menghangatkan apa saja yang ada di meja makan, menjerang air, dan kemudian meninggalkannya sambil sholat shubuh. Seperempat jam setelahnya, alarm yang ke dua menyusul dengan suara yang lebih nyaring, kali ini dari sebuah stasiun radio. Saat itulah aku baru benar-benar bangun dari tempat tidur dan segera mengambil air wudlu. Usai sholat giliranku membangunkan anak semata wayang yang terlelap dalam kelelahan, tahap pertama. Sambil menyiapkan air hangat untuk mandi, handuk, perlengkapan mandi, serta mamatikan lampu-lampu luar rumah. Gadis yang beranjak ABG itu masih erat memeluk guling dan sepertinya enggan berpisah dengan mimpi-mimpinya.

Seperempat jam kemudian  panggilan yang ke dua lebih nyaring ku teriakkan, kali ini dia terbangun dengan mata sayu dan langsung menuju kamar mandi. Kira-kira setengah jam dia di kamar mandi, aku menyiapkan berkas-berkas pekerjaan yang hendak ku bawa ke kantor, angkat barbel, push up, sit up, sambil menonton berita pagi. Lumayan, badan sedikit hangat dan segar. Tepat pukul 06.00 kami sudah duduk bersama di meja makan. Secangkir kopi hangat dan setangkup roti bakar sudah menunggu untuk ku santap, sambil membaca koran sekenanya. Maklum, hari masih dini dan aku tidak mau melahap berita-berita berat yang bisa mengubah mood.

Ah, nyaris saja kegiatan sepeti ini menjadi rutinitas yang monoton seandainya tidak ada hal-hal baru yang selalu muncul semenjak anak gadisku beranjak remaja.

Baca Lagi...
 
« Prev123456 »

Hal 4 of 6
Awal Catatan Kemis

wisata

Cerita (dari) Kampung

Hak Azasi Anda, Dicabut!

Bukan main, batinku ketika bersama segerombolan mahasiswa baru yang lain berjubel memasuki gerbang kampus. Ini hari pertama sekolah dengan predikat mahasiswa. Kawanku satu seklolah malah dengan berapi-api mengatakan : Kita ini sekarang jadi mahasiswa. Agent of change. Tahukan kau apa yang dimaksud dengan agent of change itu? Penggerak perubahan, penggerak revolusi. Tahukah kau siapa yang berdri paling depan di muka moncong meriam pemerintah komunis Cina? tahukan kau siapa yang berdiri paling depan menuntuk Roh Tae Woo mundur? dan tahukan kau siapa Soekarno ketika berjuang menyatukan Republik Indonesia? Syahrir? Bung Hatta?

Dan kami yang memaklumi kegembiraanya serentak menjawab dengan lantang : MAHASISWA!, semoga dia puas. Buktinya dia kemudian menurunkan nada bicaranya dan cengar-cengir kaya kuda sumbawa kegatelan.

Jelas tertulis di sebuah spanduk yang terbentang, ucapan (sanjungan lebih tepatnya ):

SELAMAT DATANG PUTRA-PUTRI TERBAIK BANGSA

Ttd Senat Mahasiswa

Tiba-tiba ada kebanggaan membuncah memenuhi dada. Tidak main-main, konon sampai bisa berhasil diterima sebagai mahasiswa di sini, masing-masing dari kami telah mengalahkan 40 kandidat lain. Itu sama dengan jumlah siswa SMA satu kelas. Itu berarti juga kami layak disebut sebagai yang terbaik di kelas. Maka klaim Senat Mahasiswa itu memang tidak asal-asalan. Namun pada saat yang sama, di sisi ruang hati yang lain ada suara menyanggah. Ah, kalau tidak karena gratis, kalau tidak karena ada jaminan pekerjaan, kalau tidak karena prestis, dst..dst...mungkin kami tidak di sini. Tapi tak apalah, klaim apa saja yang bisa membusungkan dada ini. Aku hanya perlu kepastian yang kelak kau berikan : Gaji...he..he..he.

Tetapi rasa bangga itu rupanya harus disimpan dulu baik-baik sebab sebuah bentakan nyaring menghardik kami agar bergegas memasuki pelataran kampus, dengan jalan berjongkok! Tak urung, rasa sebal dan kesal mengiringi langkah. Tidakkah kalian tahu, wahai para senior. Di tas karung kami tersedia beracam-macam perlengkapan. Di ke dua tangan kami masih harus membawa peralatan tulis, dan aksesoris macam-macam. Dan Kami belum tidur semalaman gara-gara harus mencatat harga sayur mayur dan merangkum isi berita RRI pukul 00.00 dini hari.

Read more...


Kampanye Hijau


Diedit dari Joomla! Designed by: Free Joomla 1.5 Template, domain instructions. Valid XHTML dan CSS.