Wednesday 08th of September 2010

news blog logo
news menu leftnews menu right
Apa Kabar Indonesia
Pilihan Hati

Sebulan menjelang Pemilu 2009, masih adakah yang peduli? Wah, ini pertanyaan terlalu pesimistis dan bisa-bisa dicap haram juga karena beraroma golput. Bagaimana bisa bergeming kalau kenyataan sehari-hari yang kita temukan adalah hiruk pikuk iklan dan kampanye parpol dan calong anggota legislator. Jalan-jalan penuh dengan baliho, bendera, poster, gambar, dan posko-pokso parpol yag berebut tempat strategis. Media massa didominasi berita persiapan pemilu, kiprah para caleg, iklan politik, berita politik, sampai gossip-gossipnya. Pendek kata, di tengah kepungan informasi krisisi finansial global yang melanda, kita dijejali berita-berita seputar Pemli 2009. Jadi, orang yang tidak peduli pun pasti terpaksa melahap semua informasi itu. Berita seputar perilaku golput bukan barang baru. Sejak tahun 70-an gerakan ini sudah diperkenalkan di Indonesia. Karena di setiap masa selalu mendapatkan momentum maka hingga hari ini pun perilaku seperti itu tetap akan ada, lebih banyak mungkin. Mengingat banyak orang yang kecewa dengan kinerja para anggota legislator terpilih yang tidak memiliki intergritas dan lupa pada janji-janji politiknya dulu. Meskipun diharamkan oleh otoritas keagamaan di Indonesia, perilaku golput tidak terlalu peduli. Bagi mereka golput adalah hak warga negara juga yang harus dihormati. Pertanyaannya, adakah pilihan lain selain golput yang lebih rasional dan konstruktif  terhadap perkembangan demokrasi dan kualitas anggota dewan kita?

Lanjut...
 
Sederhana itu...

Jaman makin canggih, makin memudahkan manusia melakukan hal-hal yang sulit, bahkan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Tetapi kecanggihan berarti juga harus terpenuhinya semua tuntutan. Semakin kita meleburkan diri dalam kecanggihan, semakin banyak hal harus dikerjakan untuk memenuhi tuntutan. Kehidupan memang tidak bisa menunggu. Jadi, apapun, mesti bergerak. Dan dalam beberapa hal gerak itu adalah berlari dengan cepat. Maka menjadi bagian dari kecanggihan jaman adalah niscaya menjadi pelari yang mengejar jaman juga. Menjadi manusia modern adalah mencari bentuk paling sesuai dengan tuntutan jaman. Mungkin dengan beberapa pengorbanan.

Super sibuk, adalah julukan manusia-manusia di jaman ini. Di setiap kesempatan dapat ditemukan orang-orang betipe seperti ini. Semakin sedikit alokasi waktu yang dapat digunakan secara bebas untuk memberikan kesempatan terhadap 'wajah asli'-nya untuk berkembang. Sebab untuk berbaur dengan segala kesibukan itu tidak bisa tampil a la kadarnya. Kita tidak dapat terbebas dari segala macam atribut-atribut manusia modern yang telah menjadi semacam kebutuhan pokok. Bahkan untuk bersosialisasi sekalipun, jarang atribut-atribut itu dapat dilepaskan. Atribut itu adalah simbol yang hendak mengatakan kepada orang lain dengan siapa anda sedang berhadapan atau berinteraksi. 

selengkapnya...
 
« Prev123456 »

Hal 3 of 6
Awal Catatan Kemis

wisata

Cerita (dari) Kampung

Hak Azasi Anda, Dicabut!

Bukan main, batinku ketika bersama segerombolan mahasiswa baru yang lain berjubel memasuki gerbang kampus. Ini hari pertama sekolah dengan predikat mahasiswa. Kawanku satu seklolah malah dengan berapi-api mengatakan : Kita ini sekarang jadi mahasiswa. Agent of change. Tahukan kau apa yang dimaksud dengan agent of change itu? Penggerak perubahan, penggerak revolusi. Tahukah kau siapa yang berdri paling depan di muka moncong meriam pemerintah komunis Cina? tahukan kau siapa yang berdiri paling depan menuntuk Roh Tae Woo mundur? dan tahukan kau siapa Soekarno ketika berjuang menyatukan Republik Indonesia? Syahrir? Bung Hatta?

Dan kami yang memaklumi kegembiraanya serentak menjawab dengan lantang : MAHASISWA!, semoga dia puas. Buktinya dia kemudian menurunkan nada bicaranya dan cengar-cengir kaya kuda sumbawa kegatelan.

Jelas tertulis di sebuah spanduk yang terbentang, ucapan (sanjungan lebih tepatnya ):

SELAMAT DATANG PUTRA-PUTRI TERBAIK BANGSA

Ttd Senat Mahasiswa

Tiba-tiba ada kebanggaan membuncah memenuhi dada. Tidak main-main, konon sampai bisa berhasil diterima sebagai mahasiswa di sini, masing-masing dari kami telah mengalahkan 40 kandidat lain. Itu sama dengan jumlah siswa SMA satu kelas. Itu berarti juga kami layak disebut sebagai yang terbaik di kelas. Maka klaim Senat Mahasiswa itu memang tidak asal-asalan. Namun pada saat yang sama, di sisi ruang hati yang lain ada suara menyanggah. Ah, kalau tidak karena gratis, kalau tidak karena ada jaminan pekerjaan, kalau tidak karena prestis, dst..dst...mungkin kami tidak di sini. Tapi tak apalah, klaim apa saja yang bisa membusungkan dada ini. Aku hanya perlu kepastian yang kelak kau berikan : Gaji...he..he..he.

Tetapi rasa bangga itu rupanya harus disimpan dulu baik-baik sebab sebuah bentakan nyaring menghardik kami agar bergegas memasuki pelataran kampus, dengan jalan berjongkok! Tak urung, rasa sebal dan kesal mengiringi langkah. Tidakkah kalian tahu, wahai para senior. Di tas karung kami tersedia beracam-macam perlengkapan. Di ke dua tangan kami masih harus membawa peralatan tulis, dan aksesoris macam-macam. Dan Kami belum tidur semalaman gara-gara harus mencatat harga sayur mayur dan merangkum isi berita RRI pukul 00.00 dini hari.

Read more...


Kampanye Hijau


Diedit dari Joomla! Designed by: Free Joomla 1.5 Template, domain instructions. Valid XHTML dan CSS.