Friday 30th of July 2010

news blog logo
news menu leftnews menu right
Apa Kabar Indonesia
Oalah...Indonesiaku
Menyeruak secara tiba-tiba di tengah gegap gempita kampanye capres-cawapres, dua wanita Indonesia ini memaksa perhatian kita masing-masing dengan peristiwanya yang boleh dibilang klasik namun ternyata masih menyisakan pertanyaan yang belum tuntas jawabnya.
Pertama adalah kasus Manohara, perempuan jelita yang memiliki kisah bak dongeng sebelum tidur ini begitu gencar diliput media (infotainment) akibat antiklimaks jalan cerita yang dialaminya. Entah mengapa kasus ini menyita begitu banyak perhatian media massa di saat ribuan perempuan Indonesia di negeri jiran itu yang, bahkan, mengalami nasib lebih buruk. Beruntungnya Manohara, setidaknya, Ia bisa kembali ke pangkuan keluarganya dengan selamat. Beruntungnya pula ia karena selain liputan media, ia juga 'didukung oleh negara' . Ia juga memiliki keluarga yang mampu menjadikan kasus tersebut menjadi penting dan layak untuk dibela.
Kita tenta mafhum dengan banyaknya kasus serupa yang menimpa TKI (wanita) kita di luar negeri. Tidak jarang mereka hanya kembali jasadnya saja yang sudah kaku terbujur, banyak lainnya yang masih tersekap ,disiksa, diperkosa, dan tidak memiliki seorang pun yang peduli apalagi membelanya. Tidak terdengar gegap gempita liputan media ataupun limpahan simpati dari khalayak umum. Bahkan negara pun sering terlihat serba gamang. Inilah potret yang masih sering kita saksikan sampai dengan sekarang ini. TKW kita sering pulang dengan luka disekujur badan dan depresi tanpa siapa peduli, Manohara yang cantik pulang dan segudang skenario sinetron sudah menunggu. Wakakak..kakak...kak...
Kedua, tentu saja, adalah kasus yang menimpa ibu rumah tangga beranak balita 2 orang, Prita. Kasus Prita (VS RS OMNI) mendadak menjadi pusat perhatian orang tidak saja para pelahap gossip. Bahkan sampai Presiden dan Capres-Cawapres ikut cawe-cawe menunjukkan simpatinya. Para pejabat terkait pun turut serta dibuat sibuk. Kasus ini sepertinya sepele. Hanya masalah surat elektronik mengenai ketidakpuasan seorang pasien sakit yang disampaikan kepada kalangan dekat pasien. Namun sontak berubah menjadi kasus penting ketika aparat penegak hukum dengan gagah berani menerapkan pasal-pasal tindak pidana serius dengan ancaman hukuman labih dari 5 tahun. Logika hukum mengatakan dengan ancaman hukuman seperti itu maka tersangka harus ditahan. Maka Prita pun menjalani kehidupannya di balik jeruji ruang tahanan, terpisah dari suami, dan yang menyedihkan, terpisah dari dua buah hatinya yang masih mungil.
Publik sontak terkejut dan berekaksi keras. Ribuan pendukung cause di situs jejaring Face Book, komentar para ahli hukum, pakar HAM, dan masyarakat luas, senada mempertanyakan langkah penahanan Prita. Hanya karena berkirim surel mengenai curahan ketidakpuasannya atas pelayanan RS. Orang mencibir langkah RSO yang seperti membunuh nyamuk dengan senapan mesin. Orang juga mencibir langkah penegak hukum yang menerapkan pasal-pasal tersebut yang menyebabkan Prita ditahan.
Publik jelas menyaksikan ketidakadilan yang amat telanjang di sini. Lebih dari itu, publik kembali menyadari bahwa kebebasan berekspresi mengeluarkan pendapat yang merupakan HAM (diam-diam) masih ada yang tidak sepakat, masih menghadapi ancaman serius, justru di era reformasi yang penuh euforia kebebasan!
Bau busuk di belakang kasus ini pun mulai dicurigai berbagai kalangan. Siapa yang bermain kekuasaan sehingga menyeret persoalan yang sederhana ini menjadi terlihat berat dan serius. Ada apa di balik penerapan Undang-undang ITE dalam kasus itu?
Sisi baiknya, dua berita itu sungguh telah membangunkan kita dari mimpi-mimpi indah dan janji-janji kosong para juru kampanye capres-cawapres. Selamat menikmati...
 
 
Koalisi, Kosnpirasi, Pusing......Wakakakakakkk...

Wacana koalisi tampaknya sudah mengerucut dan hampir menemukan bentuk akhirnya. Meskipun jelas baru Partai Golakar dengan Hanura yang sudah berani mendeklarasikan Capres dan Cawapresnya, tetapi arah koalisi partai-partai lain kelihatan tidak akan jauh berbeda dengan prediksi amatiran maupun analisis para pakar politik. Kalau skenario ini benar, berarti akan ada tiga pasang kandidat yang akan bersaing merebutkan kursi RI-1 dan RI-2 untuk periode 2009-20014. Sisi baiknya, kita berharap proses pilpres nanti tidak terlalu banyak pilihan yang tidak bermutu seperti pemilu caleg yang baru berlalu. Sisi buruknya, kalau boleh dibilang demikian, adalah masih bertahannya muka-muka lama yang kita sudah tahu rekam jejaknya (baca : kekurangannya) sementara catatan prestasinya masih meragukan. Apa boleh buat, itu kenyataan yang harus kita hadapi. Jadilah kembali ungkapan untuk memilih yang terbaik di antara yang jelek kita pakai untuk sekedar menimbang sebelum menentukan pilihan. Mudah-mudahan si jelek yang kita pilih akan segera memperbaiki catatan prestasinya dengan keberhasilan kelak ketika menjabat.

Memang secara sepintas muara akhir dari proses politik yang panjang dan melelahkan iniujung-ujungnya jatuh hanya pada upaya perebutan dan pembagian kekuasaan semata. Tetapi proses politik di manapun akan selalu seperti itu, meskipun tidak semuanya harus berhenti sampai di situ juga. Apalah gunanya pembelajaran demokrasi yang berbiaya mahal itu kalau hanya direduksi menjadi proses bagi-bagi kekuasaan belaka. Kalau demkian, pada akhirnya nanti setelah kekuasaan diraih, tujuan yang mengemuka adalah bagaimana menggunakan kuasa itu untuk menguasai orang lain dengan menguntungkan diri sendiri atau kelompoknya seperti yang sering terjadi.

Belum reda benar issu koalisi, kita dikejutkan oleh pemberitaan media mengenai dugaan keterlibatan seorang pejabat tinggi dalam kasus pembunuhan seorang pengusaha. Kasus ini tak urung memicu spekulasi dalam masyarakat akan adanya sebuah konspirasi tingkat tinggi. Kita tahu nama pejabat yang diduga terlibat tersebut memiliki peran sangat besar dalam proses pemberantasan penyakit paling kronis di negeri ini, korupsi. Di mana di negeri ini, korupsi sudah menjadi rahasia umum. Bisa dilakukan siapa saja, di institusi mana saja. Melibatkan pejabat kelas tinggi, hingga tukang parkir. Dan kasus-kasus korupsi yang sedang dan sudah ditangani adalah kasus yang melibatkan beberapa petinggi lembaga, departemen, perusahaan, dan sebagainya. Sementara publik pun sebenarnya percaya bahwa dengan gambaran kondisi 'perkorupsian' di Indonesia yang demikian, nyaris mustahil mencari seorang yang suci yang bisa diandalkan untuk memberantasnya.

Maka yang ada adalah rasa tidak puas, dendam. Merasa bahwa yang menyapu tidak lebih bersih dari yang disapu, dan tunggulah saatnya keburukanmu akan menjerumuskanmu juga.

Adalah sebuah kengerian seandainya dugaan tersebut menemukan fakta-fakta yang tidak bisa dibantah. Apa yang selama ini hanya kita pahami berlaku dalam filem-filem Amerika ternyata sudah terjadi juga di sekitar kita. Orang melakukan segala cara untuk menyelamatkan diri dan kelompoknya, termasuk dengan melenyapkan nyawa orang lain.

Banyak kepentingan berkelindan dalam hal ini. Kepentingan pemberantasan korupsi jelas terancam kalau seandainya pucuk pimpinan KPK itu terbukti secara sah di muka hukum sebagai bagian dari masalah. Sebuah guncangan berat akan menimpa lembaga itu dan tidak menutup kemungkinan akan semakin berat langkahnya ke depan. 

Bukankah sudah terlihat jelas siapa pihak yang paling antusia menyiarkan dugaan keterlibatan itu? bahkan tampak melampaoi kewajaran etika birokrasi. Seakan ada momentum sangat pas untuk menunjukkan kepada khalayak bahwa AA patut dipertanyakan kembali integritasnya sebagai aparat penegak hukum.

Ah, sudahlah. Jangan terlalu larut dalam buaian teori konspirasi. Biarkan saja proses hukum berjalan dengan adil.

 
« Prev123456 »

Hal 1 of 6
Awal Catatan Kemis

wisata

Cerita (dari) Kampung

Hak Azasi Anda, Dicabut!

Bukan main, batinku ketika bersama segerombolan mahasiswa baru yang lain berjubel memasuki gerbang kampus. Ini hari pertama sekolah dengan predikat mahasiswa. Kawanku satu seklolah malah dengan berapi-api mengatakan : Kita ini sekarang jadi mahasiswa. Agent of change. Tahukan kau apa yang dimaksud dengan agent of change itu? Penggerak perubahan, penggerak revolusi. Tahukah kau siapa yang berdri paling depan di muka moncong meriam pemerintah komunis Cina? tahukan kau siapa yang berdiri paling depan menuntuk Roh Tae Woo mundur? dan tahukan kau siapa Soekarno ketika berjuang menyatukan Republik Indonesia? Syahrir? Bung Hatta?

Dan kami yang memaklumi kegembiraanya serentak menjawab dengan lantang : MAHASISWA!, semoga dia puas. Buktinya dia kemudian menurunkan nada bicaranya dan cengar-cengir kaya kuda sumbawa kegatelan.

Jelas tertulis di sebuah spanduk yang terbentang, ucapan (sanjungan lebih tepatnya ):

SELAMAT DATANG PUTRA-PUTRI TERBAIK BANGSA

Ttd Senat Mahasiswa

Tiba-tiba ada kebanggaan membuncah memenuhi dada. Tidak main-main, konon sampai bisa berhasil diterima sebagai mahasiswa di sini, masing-masing dari kami telah mengalahkan 40 kandidat lain. Itu sama dengan jumlah siswa SMA satu kelas. Itu berarti juga kami layak disebut sebagai yang terbaik di kelas. Maka klaim Senat Mahasiswa itu memang tidak asal-asalan. Namun pada saat yang sama, di sisi ruang hati yang lain ada suara menyanggah. Ah, kalau tidak karena gratis, kalau tidak karena ada jaminan pekerjaan, kalau tidak karena prestis, dst..dst...mungkin kami tidak di sini. Tapi tak apalah, klaim apa saja yang bisa membusungkan dada ini. Aku hanya perlu kepastian yang kelak kau berikan : Gaji...he..he..he.

Tetapi rasa bangga itu rupanya harus disimpan dulu baik-baik sebab sebuah bentakan nyaring menghardik kami agar bergegas memasuki pelataran kampus, dengan jalan berjongkok! Tak urung, rasa sebal dan kesal mengiringi langkah. Tidakkah kalian tahu, wahai para senior. Di tas karung kami tersedia beracam-macam perlengkapan. Di ke dua tangan kami masih harus membawa peralatan tulis, dan aksesoris macam-macam. Dan Kami belum tidur semalaman gara-gara harus mencatat harga sayur mayur dan merangkum isi berita RRI pukul 00.00 dini hari.

Read more...


Kampanye Hijau


Diedit dari Joomla! Designed by: Free Joomla 1.5 Template, domain instructions. Valid XHTML dan CSS.